Hari kedua konser “Spinning Around” Hoang Dung di Kota Ho Chi Minh digambarkan sebagai momen yang melengkapi potret sang musisi di puncak kariernya. Jika penampilan di Hanoi pada Agustus 2025 dianggap sebagai pengukuhan posisi, maka pertunjukan di Ho Chi Minh City dinilai sebagai versi yang lebih disempurnakan—dipoles hingga ke detail terkecil.
Dalam konser ini, Hoang Dung tampil bersama 9.800 musisi lainnya. Struktur program disebut tetap sama seperti di Hanoi, namun penyampaian cerita terasa lebih lancar dan kaya emosi. Transisi antarbagian, interaksi dengan penonton, serta cara memperkenalkan lagu menunjukkan perkembangan Hoang Dung bukan hanya sebagai penyanyi, penari, dan pemain instrumen, tetapi juga sebagai pencerita di panggung besar.
Dengan hampir 30 penampilan selama lebih dari tiga jam, “Spinning Around Day 2” menghadirkan tantangan pengaturan tempo. Hoang Dung membaginya ke dalam “bab-bab” yang jelas. Segmen awal dibuka dengan lagu-lagu seperti “Twenty,” “Compass,” dan “Why Did You Only Arrive Now?”, yang membawa penonton kembali ke masa muda—fase emosi yang masih murni dan cenderung impulsif.
Salah satu momen yang paling mencuri perhatian terjadi saat Hoang Dung membawakan “Ly Giai” (Penjelasan), lagu yang ia tulis untuk istrinya pada hari pernikahan mereka enam tahun lalu. Di bagian ini, puluhan pasangan penggemar saling melamar dan memamerkan cincin, menciptakan rangkaian suasana bahagia dengan energi ceria dan optimistis yang menyebar ke seluruh arena.
Seusai pertunjukan, Hoang Dung sempat berseloroh menanyakan apakah penonton menyesal telah “dimanipulasi” dan apakah mereka punya penyesalan. Ia kemudian menyampaikan bahwa dirinya tidak pernah menyesali keputusan untuk jatuh cinta dan menikah, sebelum menceritakan perjalanan cintanya—yang disebut penuh suka dan duka—bersama Minh Toc & Lam serta Grey D.
Kehadiran bintang tamu di Ho Chi Minh City juga memberi warna berbeda. Duo Minh Toc & Lam menghadirkan gaya eksperimental lewat “Step by Step” dan “Moonlight City,” sementara Grey D membawa energi muda melalui “Today’s Weather Forecast: Rain” dan “Vaicaunoicokhiennguoithaydoi.” Kolaborasi-kolaborasi ini tidak ditempatkan sebagai selingan semata, melainkan dirangkai mengikuti alur emosional konser sehingga keseluruhan pertunjukan digambarkan menyerupai permadani V-pop kontemporer yang semarak.
Bagian tengah konser disebut menjadi puncak emosi, ketika deretan lagu populer seperti “Nàng thơ” (Muse), “Đoạn kết mới” (New Ending), dan “Đôi lời tình ca” (A Few Words of Love Song) disusun menjadi aliran perasaan yang berkelanjutan. Di segmen ini, penonton paling banyak ikut bernyanyi, mengubah konser menjadi ruang resonansi, bukan sekadar pertunjukan satu arah.
Di tengah kepadatan daftar lagu, bagian akustik seperti “Don’t Hold a Seat,” “Wait for Me,” dan “When You Grow Up …” menghadirkan jeda yang memberi ruang “bernapas.” Hoang Dung juga mengajak penggemar bernyanyi bersama lagu pilihan mereka, serta berbagi kisah masa awalnya saat masih menjadi mahasiswa Universitas Perdagangan Luar Negeri dan tampil dengan band akustik beranggotakan tiga orang.
Ia mengenang masa ketika bernyanyi di tempat musik dengan bayaran 250.000 dong. Dalam formasi kecil itu, Hoang Dung memainkan gitar, bernyanyi sebagai vokalis utama, dan memainkan drum. Ia juga bercerita bahwa ketika vokalis utama mengalami masalah, dirinya akan mengambil alih posisi tersebut. Menurutnya, segmen “Hoang Dung’s Music Cafe” dibuat sebagai pengingat agar tidak melupakan asal-usul dan hal-hal sederhana.
Meski jumlah lagu banyak, konser tetap mempertahankan struktur yang rapi—sesuatu yang disebut tidak selalu dapat dicapai dalam konser V-pop. Di bagian akhir, lagu-lagu yang sudah akrab seperti “Nestled in Your Arms and Listening to You Sing,” “Muse,” dan “Champagne” menutup acara dengan semangat “rotasi”: kembali ke titik awal, tetapi dalam keadaan yang berbeda.
Jika di masa lalu lagu-lagu tersebut menggambarkan kisah seorang pemuda, kini lagu-lagu itu disebut membawa makna tambahan tentang seseorang yang telah melewati banyak pengalaman dan bersiap membuka “cakrawala baru” dalam hidup maupun musik. Bagi Hoang Dung, berbagi kisah personal melalui musik menjadi jembatan emosional dengan para penggemarnya, sekaligus menunjukkan bagaimana musik kini terjalin erat dengan cerita-cerita yang sangat pribadi.

