Komunitas Maluku Basudara Melbourne (MBM) terus memperkenalkan identitas budaya Maluku di Australia melalui alat musik tradisional jukulele. Upaya tersebut dilakukan secara konsisten dengan berpartisipasi dalam berbagai acara komunitas lokal hingga festival budaya berskala besar.
Ketua Moluccan Jukulele, Nico Tulalessy, mengapresiasi dedikasi Ina Siwabessy dan Decky Nanere dalam membina grup jukulele di lingkungan MBM. Ia menilai kontribusi komunitas ini penting untuk menjaga kelestarian musik tradisional Maluku tetap hidup meski berada jauh dari tanah air.
Perjalanan grup jukulele MBM bermula dari inisiatif Decky Nanere yang mendorong anggota komunitas untuk belajar ukulele. Pada masa pandemi, mereka sempat menghadapi tantangan dengan menjalani latihan secara daring. Seiring waktu, grup ini kembali aktif dan kini rutin tampil dalam sejumlah agenda, di antaranya Pattimura Day, Festival Indonesia, dan Tembang Nusantara.
MBM juga menyampaikan rasa syukur atas dukungan langsung dari para pegiat jukulele profesional asal Maluku. Kolaborasi tersebut dipandang sebagai langkah untuk meningkatkan standar penampilan sekaligus memperluas jejaring musisi tradisional Maluku di tingkat internasional.
Melalui semangat kebersamaan, MBM berharap jukulele tidak hanya hadir sebagai pengiring seremoni komunitas, tetapi juga dapat dikenal lebih luas. Mereka juga berharap gerakan ini dapat menginspirasi anak muda di Maluku untuk terus bangga serta berinovasi dengan aset budaya yang dimiliki.