GIANYAR — Komunitas Healing On The Run (HOTR) kembali menggelar MatuRUN, kegiatan lari sekaligus perjalanan spiritual menuju Pura Besakih, Minggu (12/4). Tahun ini, kegiatan tersebut diikuti 30 peserta yang menempuh jarak 33 kilometer dengan elevasi 1.009 meter di atas permukaan laut (mdpl).
MatuRUN kini memasuki pelaksanaan ketiga dan resmi ditetapkan sebagai agenda tahunan. Pada pelaksanaan tahun lalu, kegiatan ini hanya diikuti tujuh peserta.
Ketua panitia MatuRUN 2026, Aipda I Kadek Darmika atau Bli Chatos, menjelaskan kegiatan ini berangkat dari keinginan untuk tangkil ke Besakih dengan cara berbeda. Menurutnya, tujuan utama bukan semata tiba di lokasi, melainkan merasakan proses perjalanan spiritual sebagaimana dilakukan leluhur Bali pada masa lalu, ketika perjalanan ke Besakih ditempuh dengan berjalan kaki.
Komunitas HOTR yang dipimpin Ida Bagus Jhoni sebelumnya telah menjalankan kegiatan serupa dan mendapat respons positif. Dari pengalaman itu, HOTR berkomitmen menjadikan MatuRUN sebagai agenda rutin tahunan, khususnya bertepatan dengan rangkaian karya Ida Betara Turun Kabeh (IBTK) di Besakih.
Panitia menyebut peserta yang ikut tahun ini merupakan pelari yang telah terseleksi. Mereka diwajibkan memiliki daya tahan yang baik dan terbiasa melakukan long run. Penyelenggara menekankan MatuRUN bukan sekadar mengajak orang berlari, melainkan perjalanan yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental.
Selama perjalanan, peserta membawa logistik sederhana berupa air minum, makanan ringan, dan energy gel. Dukungan juga datang dari tim pendamping serta warga desa yang dilalui, termasuk penyediaan water station, air mineral, hingga minuman isotonik. Panitia menilai kebersamaan dan gotong royong terasa kuat sepanjang rute.
Salah satu peserta yang menjadi perhatian adalah perempuan berusia 60 tahun asal Klungkung, Bu Evy, yang disebut mencapai Besakih paling cepat. Panitia menilai hal tersebut menunjukkan MatuRUN tidak hanya terkait kekuatan fisik, tetapi juga tekad dan semangat.
Untuk mengantisipasi risiko, panitia menyiapkan obat-obatan serta sistem evakuasi apabila ada peserta mengalami kelelahan atau kram. Chatos menyebut seluruh peserta dapat menyelesaikan perjalanan tanpa kendala berarti.
Setibanya di kawasan Besakih, peserta beristirahat di rumah warga yang difasilitasi Jero Mangku Jelantik, kemudian mandi dan berganti pakaian. Setelah itu, mereka melaksanakan persembahyangan di pedharman masing-masing dan berkumpul kembali di Penataran Agung Pura Besakih.
Selain aspek olahraga dan spiritual, kegiatan ini juga memuat nilai sosial. Panitia menyampaikan dukungan dari komunitas lari dan relasi dikumpulkan untuk disalurkan sebagai dana punia di Pura Besakih.
Ke depan, HOTR berharap MatuRUN dapat menginspirasi generasi muda untuk menjaga kebugaran sekaligus memperkuat spiritualitas, dengan menghidupkan kembali semangat kuat secara fisik dan batin melalui perjalanan menuju Besakih.