Pandemi virus corona tidak hanya memukul sektor kesehatan dan ekonomi, tetapi juga berpotensi menimbulkan tekanan psikologis yang luas. Ketidakpastian durasi pandemi, dampaknya terhadap usaha, hingga kekhawatiran akan kondisi kesehatan dinilai dapat memicu stres pada banyak orang, terutama mereka yang harus tinggal di rumah dalam waktu yang tidak menentu sambil terus terpapar arus informasi mengenai wabah.
Dalam sebuah percakapan di grup pertemanan, muncul celetukan bahwa situasi ini bisa membuat “banyak yang masuk rumah sakit jiwa.” Meski awalnya terdengar sebagai candaan, pernyataan tersebut memunculkan refleksi bahwa risiko gangguan kesehatan mental memang perlu dipikirkan sejak dini, seiring tekanan yang terus menumpuk pada masyarakat.
Dampak pandemi disebut dapat menjalar dari terpukulnya berbagai jenis usaha hingga kemungkinan meningkatnya jumlah orang kehilangan pekerjaan. Di saat yang sama, ada pula mereka yang harus menghadapi kehilangan anggota keluarga, atau berstatus PDP dan ODP. Berbagai kondisi itu, ditambah kebiasaan mengonsumsi berita pandemi secara terus-menerus, dapat menciptakan situasi yang campur baur dan meningkatkan potensi stres.
Penanganan dampak psikologis ini dinilai perlu menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat. Sejumlah strategi dianggap perlu disiapkan, termasuk mengerahkan sumber daya psikolog dan psikiater. Bahkan, bila diperlukan, tokoh agama seperti mubalig dan dai, maupun para ahli meditasi, dapat dilibatkan untuk membantu menenangkan masyarakat.
Di lingkungan pertemanan penulis, gejala stres disebut mulai terlihat dalam berbagai bentuk. Ada orang yang merasa seolah sudah terjangkiti virus meski belum tentu. Situasi ini membuat upaya memberi dukungan menjadi tidak mudah, karena kalimat penghiburan yang terlalu sederhana bisa dianggap meremehkan perasaan orang lain, sementara kekeliruan penilaian juga dapat menimbulkan masalah baru.
Ketenangan, menurut tulisan tersebut, membutuhkan pendampingan dari orang yang memiliki kapasitas untuk menenangkan. Jika tidak, “wabah stres” dikhawatirkan cepat menyebar dan pada akhirnya dapat memengaruhi kondisi fisik, termasuk menurunkan sistem imun.
Di sisi lain, masyarakat juga membutuhkan hiburan dan kegembiraan untuk menjaga ketahanan mental. Namun, akses terhadap hiburan tidak selalu mudah. Pilihan yang tersedia sering kali terbatas pada tontonan dari YouTube atau layanan film di internet, yang bagi sebagian orang berarti tambahan pengeluaran, seperti pembelian kuota. Akses semacam ini pun lebih banyak dinikmati kalangan kelas menengah.
Dalam situasi tersebut, setiap orang diharapkan dapat menemukan cara masing-masing untuk menjaga kegembiraan. Meski terdengar ironis mencari keceriaan di tengah keadaan yang menyedihkan, hal itu dianggap tetap diperlukan. Masyarakat juga didorong mencari solusi bersama agar bisa saling menghibur, saling menguatkan, dan menyebarkan optimisme meski tidak dapat bertatap muka secara langsung.
Tulisan itu menekankan perlunya kreativitas untuk melewati masa krisis, sekaligus pentingnya menjaga suara optimisme agar keraguan dan kekhawatiran tidak semakin membesar. Harapannya, masyarakat dapat menemukan cara untuk bertahan dan melewati pandemi, meski belum jelas bagaimana dan kapan situasi akan berakhir.

