Konektivitas jalan nasional Tarutung–Sibolga di Provinsi Sumatera Utara terus dijaga agar aktivitas warga kembali lancar. Penanganan pascabencana dilakukan melalui kolaborasi Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan PT Hutama Karya (Persero) pada koridor tersebut.
Pekerjaan difokuskan pada titik-titik kritis yang sempat mengganggu akses, termasuk area Batu Lubang pada penanganan titik putus STA 16+050. Koridor Tarutung–Sibolga saat ini masuk dalam penanganan darurat jasa rancang bangun jalan dan jembatan sepanjang 60,40 kilometer, dengan total 103 titik penanganan.
Menteri PU Dody Hanggodo menyatakan percepatan pemulihan konektivitas dilakukan sejak awal kejadian bencana melalui balai-balai teknis di seluruh provinsi. Ia menyebut Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) dan Balai Wilayah Sungai (BWS) menjadi garda terdepan untuk memastikan akses transportasi dan konektivitas antarwilayah segera pulih. “Kementerian PU memiliki balai teknis di seluruh provinsi di Indonesia. Sehingga ketika terjadi bencana, kami sudah bergerak lebih dulu. Hal ini juga berlaku di seluruh wilayah, tidak hanya di Sumatera, tetapi juga di tempat lain. Di setiap bencana, kita upayakan hadir secepat mungkin,” ujar Dody dalam media briefing di Kementerian PU, Jumat (16/1/2026).
Di titik rawan Batu Lubang, penanganan dilanjutkan secara menyeluruh dengan dua tujuan: menjaga akses sementara sekaligus menyiapkan rancangan permanen sejak awal. Untuk titik putus STA 16+050, opsi penanganan permanen disusun melalui rencana realinyemen agar risiko gangguan berulang dapat ditekan. Dalam rencana tersebut, jalur Batu Lubang diupayakan tidak dilalui untuk menghindari potensi penyempitan (bottle neck) yang dapat menghambat kelancaran arus kendaraan di segmen ini.
Seiring penyiapan solusi permanen, pembukaan dan pembersihan akses juga dilakukan pada Ruas 2 STA 16+800 dan STA 19+225 agar pergerakan warga tetap terjaga selama masa transisi pemulihan.
Secara keseluruhan, 103 titik penanganan di sepanjang koridor terdiri atas 76 lokasi longsor tebing, 22 lokasi jalan amblas, dan 5 lokasi jalan putus. Pelaksanaan pekerjaan dibagi ke dalam dua zona agar pengawasan lapangan dan pengendalian mutu lebih fokus. Zona 1 menangani 42 titik, sedangkan Zona 2 menangani 61 titik, dengan penempatan sumber daya diarahkan pada titik prioritas sesuai kebutuhan lapangan.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah longsor di Desa Simaninggir. Pemulihan di area ini difokuskan pada penanganan akses sepanjang kurang lebih 1 kilometer agar keterhubungan menuju Sibolga dapat dipulihkan secara bertahap. Upaya di Simaninggir diperkuat dengan mobilisasi alat berat berupa empat unit excavator, satu unit vibro, dan satu unit dozer. Penanganan dilakukan bertahap karena kondisi lapangan masih dipengaruhi cuaca dan karakter tanah yang dinamis.
Dari sisi lalu lintas, ruas ini sebelumnya melayani volume kendaraan yang tinggi. Berdasarkan data lalu lintas harian rata-rata (LHR), kendaraan yang melintas sebelum bencana tercatat sekitar 16.362 kendaraan. Data tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pemulihan akses, terutama terkait keselamatan, kelancaran arus, dan kesiapan segmen ketika kembali difungsikan lebih luas.
Seorang warga di sekitar lokasi penanganan, Abdul (44), mengatakan pemulihan akses sejak Hutama Karya hadir membantu mempercepat pergerakan warga. “Saya pribadi sih alhamdulillah, banyak perkembangan dan banyak yang dibantu sejak HK datang. Akses jalan yang sebelumnya tertutup, sejak HK datang alhamdulillah orang bisa lewat. Kegiatan kehidupan sehari-hari sudah bisa normal lagi,” ujarnya.
Dalam keterangannya, Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, menyatakan perusahaan akan terus mendukung kolaborasi dengan Kementerian PU dalam pemulihan pascabencana, terutama pada titik yang berdampak langsung pada mobilitas warga. “Prioritas utama adalah memastikan akses kembali aman. Kerja bersama lintas pihak perlu dijaga agar pemulihan berjalan dengan tepat waktu agar manfaatnya cepat dirasakan masyarakat,” ujarnya.