BERITA TERKINI
Kasus Meme Jokowi–Prabowo dan Jejak Panjang Istilah ‘Meme’ yang Berawal dari Dunia Sains

Kasus Meme Jokowi–Prabowo dan Jejak Panjang Istilah ‘Meme’ yang Berawal dari Dunia Sains

Penangkapan seorang mahasiswi Institut Teknologi Bandung (ITB) oleh kepolisian setelah mengunggah meme kontroversial yang menampilkan rekayasa gambar Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto menyita perhatian publik. Peristiwa ini memunculkan perdebatan tentang batas kebebasan berekspresi di ruang digital, terutama terkait pembuatan dan penyebaran meme.

Di internet, meme lazim dipahami sebagai bentuk ekspresi visual yang kerap memuat humor atau sindiran. Dalam pengertian modern, kamus mendefinisikannya sebagai item seperti gambar atau video dengan keterangan yang menarik atau lucu dan menyebar luas secara daring, terutama melalui media sosial. Namun, di balik popularitasnya saat ini, istilah “meme” ternyata memiliki sejarah yang lebih panjang dan tidak lahir dari era internet.

Istilah “meme” pertama kali diperkenalkan oleh ahli biologi evolusioner Richard Dawkins dalam buku The Selfish Gene yang terbit pada 1976. Dawkins menggunakan “meme” untuk menyebut “unit transmisi budaya”, sebuah konsep yang ia sejajarkan dengan gen dalam biologi. Ia menulis perlunya nama bagi “replikator baru” ini, yakni kata benda yang menyampaikan gagasan tentang unit transmisi budaya atau unit imitasi.

Dawkins memilih akar kata Yunani mimeme, tetapi menginginkan bentuk yang lebih ringkas dan berima dengan kata “gene”. Dari situ lahirlah “meme”. Dawkins juga menjelaskan pelafalannya seharusnya berima dengan kata “cream”, serta menyebut kaitan kebetulan dengan kata “memory” dan kata Prancis même yang berarti “sama”.

Dalam kerangka Dawkins, contoh meme mencakup melodi, ide, slogan, mode pakaian, hingga cara membuat tembikar atau membangun lengkungan. Mekanisme penyebarannya dianalogikan dengan gen: jika gen memperbanyak diri dengan berpindah antartubuh melalui sperma atau telur, maka meme memperbanyak diri dengan berpindah dari satu otak ke otak lain melalui proses yang secara luas dapat disebut imitasi. Dari pemahaman ini, kamus juga memuat definisi meme sebagai ide, perilaku, gaya, atau penggunaan yang menyebar dari satu orang ke orang lain dalam suatu budaya.

Meski dicetuskan pada 1976, istilah “meme” baru masuk kamus pada 1998, lebih dari dua dekade kemudian, ketika edisi Tenth Edition Merriam-Webster Collegiate Dictionary diperbarui. Sejumlah penggunaan dalam publikasi turut menjadi penanda meningkatnya pemakaian istilah tersebut, termasuk kutipan dari Booklist (1988), tulisan Robert Anton Wilson dalam Cosmic Trigger II (1991), hingga Jeff Yang di The Village Voice (1993). Penggunaan serupa juga terus muncul pada tahun-tahun berikutnya, termasuk yang dicatat dalam The Atlantic (2010) dan The New York Times Magazine (2011).

Seiring berkembangnya internet, kata “meme” kemudian memperoleh makna baru yang kini lebih dominan. Salah satu penggunaan awal yang merujuk pada fenomena internet, berdasarkan penelusuran dalam basis data Nexis, muncul dalam wawancara CNN pada 1998 saat membahas animasi “bayi menari” yang viral. Dalam laporan tersebut, Janelle Brown dari Wired News menyebut penyebaran animasi itu sebagai “meme internet”, sementara panduan gaya Wired mendefinisikan meme sebagai “ide yang menular”. Banyak pihak menganggap “bayi menari” sebagai meme pertama dalam pengertian modern, meski pada masa awal istilah itu masih dipahami sebagai kelanjutan dari konsep Dawkins.

Gambaran tentang cara meme internet menyebar makin jelas pada 2008, ketika Lev Grossman menulis di Time mengenai forum 4chan dan tradisi “Caturday”. Ia mencontohkan unggahan gambar kucing dengan keterangan lucu seperti “I CAN HAS CHEEZBURGER?” yang kemudian menyebar ke web lebih luas, memunculkan blog icanhascheezburger.com, dan melahirkan tren “lolcats”. Grossman juga mencatat bahwa fenomena itu berkembang menjadi produk seperti kaos, pin, dan magnet kulkas, serta menyebut investor membeli icanhascheezburger.com sekitar US$2 juta.

Perubahan makna ini pada akhirnya mendorong lahirnya definisi tersendiri di kamus. Sejumlah contoh penggunaan di media turut menguatkan pergeseran tersebut, termasuk tulisan Maura Judkis di The Washington Post (2012) tentang pembuat lelucon internet yang mulai membuat meme, ajakan dari E! (2013) kepada pembaca untuk membuat meme berdasarkan foto selebriti, serta laporan Billboard.com (2014) tentang kompetisi tagar #thevampsmeme. Definisi meme dalam konteks internet kemudian resmi muncul di Merriam-Webster pada 2015: item seperti gambar atau video dengan keterangan, atau genre item yang menarik atau lucu, yang menyebar luas secara daring terutama melalui media sosial.

Perkembangan tidak berhenti di situ. Penggunaan kata “meme” juga mulai bergeser secara semantik, misalnya dipakai sebagai kata kerja. Contohnya, laporan Sara Delgado di Teen Vogue (2019) menyebut penggemar Ariana Grande mulai “meme-ing” sampul album baru sang penyanyi. Istilah ini juga digabungkan menjadi bentuk lain seperti kata sifat “meme-tastic”, yang digunakan Madison Dapcevich di IFLScience.com (2019) untuk menggambarkan kisah-kisah paling “meme-tastic” dan tren internet pada 2018.

Di tengah perdebatan yang dipicu kasus unggahan meme Jokowi–Prabowo, jejak sejarah istilah “meme” menunjukkan bahwa konsep ini telah lama berkaitan dengan cara gagasan dan bentuk budaya menular serta beradaptasi. Dari teori “unit transmisi budaya” hingga ikon viral internet, makna meme terus berubah mengikuti perkembangan medium dan kebiasaan manusia dalam meniru, memodifikasi, dan menyebarkan pesan.