Kapten Pham Van Trinh, perwira tentara kelahiran 1995 dari distrik Thieu Hoa, provinsi Thanh Hoa, menapaki keseharian sebagai insinyur di Direktorat Jenderal Industri Pertahanan, Hanoi. Di luar tugas profesionalnya, ia dikenal tekun merawat kecintaan pada musik tradisional Vietnam—minat yang tumbuh sejak masa kanak-kanak dari lagu pengantar tidur yang dinyanyikan nenek dan ibunya, serta kebiasaannya menghadiri pertunjukan budaya dan seni di daerah.
Trinh mengingat, meski saat itu belum memahami istilah “musik tradisional”, melodi rakyat sudah terasa dekat dan menyentuhnya. Ketertarikan itu kemudian tampak ketika ia mengikuti kegiatan budaya dan seni di Akademi Teknik Militer. Saat banyak teman sekelas memilih lagu-lagu ceria dan bersemangat, Trinh justru membawakan lagu rakyat tradisional Vietnam, khususnya “Hoa Tím Bằng Lăng” (Bunga Lilac Ungu). Penampilannya disebut memikat penonton lewat suara yang sederhana namun kaya emosi.
Gairah tersebut terus menguat hingga membawanya ke Federasi Rusia saat menempuh studi di Universitas Teknik Negeri Bauman Moskow. Di sana, ia menyimpan beragam karya seniman Ha Thi Cau, lagu-lagu rakyat tradisional Vietnam, serta melodi Quan Ho di ponselnya. Dalam kegiatan pertukaran budaya, Trinh memanfaatkan nyanyian untuk memperkenalkan musik tradisional Vietnam kepada teman-teman internasional.
“Saya senang melihat mahasiswa internasional mendengarkan dengan penuh perhatian dan mengajukan pertanyaan tentang musik tradisional Vietnam. Bagi saya, seni rakyat adalah identitas yang membantu setiap orang untuk dengan percaya diri menegaskan diri mereka sendiri, di mana pun mereka berada di dunia,” ujar Trinh.
Dari sudut pandang teknisi militer, ia menilai ada kesamaan antara teknologi militer dan musik tradisional: ketelitian dan disiplin. Menurutnya, untuk menyanyikan lagu tradisional dengan tepat dan indah, pembelajar perlu gigih dan terus belajar. Ia mencontohkan pengalamannya mempelajari lagu Quan Ho kuno “La Rang” selama enam bulan—sebuah melodi yang disebut sangat sulit dalam gaya nyanyian tradisional. Proses belajar itu dilakukan sepenuhnya melalui telepon bersama seniman Nhu Chinh saat ia berada di Rusia, dengan latihan teliti pada setiap kata agar memenuhi standar ketat para pendahulu.
Sepulang dari Rusia dan kembali bekerja di Vietnam, Trinh tetap memelihara hobinya. Pada akhir pekan, ia bergabung dengan “Klub Opera Tradisional 48 Jam - Opera Rumah untuk Tanah Airku” untuk berlatih dan tampil dalam program pertunjukan komunitas, termasuk Xam di kota dan Festival Desain Kreatif Hanoi.
Ia juga rutin melakukan perjalanan lapangan untuk mengumpulkan materi musik tradisional dari para perajin veteran, di antaranya Perajin Berjasa Nguyen Thi Cuc, Ibu Nguyen Thi Tien (desa Ngang Noi, komune Tien Du, provinsi Bac Ninh), serta Perajin Rakyat Nguyen Thi Ban (desa Diem, kelurahan Kinh Bac, provinsi Bac Ninh). Dari proses riset dan pembelajaran itu, Trinh menyimpulkan bahwa gaya bernyanyi sederhana tanpa iringan dari para perajin Quan Ho—yang mencapai standar “resonansi, kekayaan, fondasi, dan semangat”—merupakan aset berharga yang perlu dilestarikan dan disebarluaskan.
Upaya penyebaran nilai warisan budaya juga ia lakukan melalui kerja kolaboratif dengan Pusat Promosi Warisan Budaya Takbenda Vietnam (VICH) dalam proyek pendidikan warisan budaya di sekolah. Salah satu contohnya adalah program “Xam ke Sekolah”, yaitu pendidikan warisan budaya keliling yang diterapkan di sekolah menengah dan universitas di Hanoi, Da Nang, dan Kota Ho Chi Minh.
Program tersebut memadukan musik tradisional dengan seniman modern Soobin Hoang Son untuk menciptakan ruang budaya yang dinilai lebih dekat dengan kaum muda. Dalam kegiatan ini, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga diajak mempraktikkan alat musik tradisional seperti simbal, drum, dan tepukan di atas panggung dengan bimbingan para pengrajin serta penyanyi Soobin Hoang Son. “Setiap anak muda memiliki hasrat terpendam terhadap seni tradisional. Saya percaya bahwa jika hasrat itu dibangkitkan pada waktu yang tepat, kecintaan itu akan berkembang dan berlipat ganda di dalam masyarakat,” kata Trinh.
Trinh juga mengenang momen ketika program tersebut singgah di Sekolah Harapan di Da Nang, tempat yang merawat siswa yatim piatu akibat pandemi Covid-19. Ia menuturkan para siswa menunjukkan antusiasme tinggi untuk mengenal musik tradisional.
Menurutnya, Xẩm tidak umum dikenal anak-anak di Vietnam Tengah yang lebih terbiasa dengan gaya nyanyian rakyat tradisional Chòi. Karena itu, tim memperkenalkan metode “menghitung xẩm”, yaitu menggunakan tepukan berirama untuk membantu menghafal angka. Pendekatan ini mengubah aktivitas berhitung menjadi lirik berima yang dipadukan ritme simbal dan tepukan tangan, sehingga anak-anak dapat mendekati bentuk seni tersebut secara lebih alami. “Pada saat itu, saya mengerti bahwa benih budaya yang telah saya tabur benar-benar telah mekar di hati anak-anak. Itulah motivasi terbesar saya untuk melanjutkan perjalanan ini,” ujarnya.
Di tengah laju kehidupan modern yang cepat dan risiko memudarnya nilai budaya, Trinh menjalani perannya dengan konsisten: menjaga nyala kecintaan pada musik tradisional melalui panggung komunitas, pengumpulan materi dari para perajin, serta pendidikan di sekolah. Baginya, upaya itu menjadi cara agar suara-suara Vietnam tetap bergema dan menemukan tempatnya dalam kehidupan kontemporer.

