Meme di era digital kian menonjol sebagai fenomena budaya dalam komunikasi daring. Melalui paduan gambar dan teks singkat, meme kerap memuat humor, satir, hingga pesan politik yang beredar luas di berbagai platform media sosial.
Dalam penelitian berjudul “Meme dalam Era Digital: Kajian Kritik Sastra terhadap Narasi Visual”, Rima Evi Yanti (201701026) mengkaji meme sebagai bentuk narasi visual yang dapat dibaca melalui pendekatan kritik sastra. Kajian ini menyoroti bagaimana meme bukan sekadar hiburan, tetapi juga dapat menjadi media ekspresi yang kuat untuk menggambarkan realitas sosial dan politik kontemporer.
Tujuan dan pendekatan penelitian
Penelitian ini bertujuan merinci peran meme dalam ranah kritik sastra serta melihat bagaimana meme mampu menyampaikan kritik terhadap karya sastra maupun fenomena sosial dengan bahasa yang lebih akrab bagi generasi yang terhubung secara digital.
Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan teknik simak, analisis, dan catat terhadap empat meme yang ditemukan di media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok, serta melalui penelusuran di Google.
Kerangka teori: kritik sastra dan narasi visual
Dalam landasan teori, penelitian ini menempatkan kritik sastra sebagai cabang ilmu sastra yang melakukan analisis, penafsiran, dan penilaian terhadap teks sastra. Kritik sastra dipahami memiliki fungsi pengembangan keilmuan, mendorong perkembangan kesusastraan, serta membantu masyarakat memahami pesan dalam karya.
Sementara itu, narasi visual dipahami sebagai alat untuk memproduksi dan mendistribusikan cerita melalui bentuk visual—termasuk meme. Meme dipandang sebagai gagasan atau gaya yang menyebar dari satu orang ke orang lain dan sangat bergantung pada ruang siber dalam proses penyebarannya.
Empat meme dan kritik yang dibaca dalam penelitian
Penelitian ini menganalisis empat meme sebagai objek kajian. Keempatnya memuat kritik sosial-politik yang disampaikan lewat bahasa ringkas, visual, dan unsur sindiran.
-
Meme (1): Kritik praktik jual-beli suara dalam pemilu
Meme memuat kalimat: “Ingat, pilih saya! Jangan pernah mimpi punya pemimpin yang jujur dan amanah jika kita sebagai rakyat hak suaranya masih bisa dibeli.” Visualnya menggambarkan seseorang menyelipkan amplop putih kepada orang lain. Pesan yang dibaca dalam penelitian ini menekankan bahwa praktik penyuapan dalam pemilihan berkontribusi pada lahirnya pemimpin yang tidak jujur dan tidak amanah, sekaligus mengajak pemilih menolak praktik yang merusak demokrasi.
-
Meme (2): Figur publik diminta menjadi panutan, bukan “gaya-gayaan”
Meme memuat kalimat: “Jadi artis, aparat keamanan atau pejabat itu. Jadi panutan, bukan untuk gegayaan!” Dengan visual sekelompok orang dan figur berseragam yang menonjol, meme ini dibaca sebagai kritik terhadap individu yang dinilai lebih mengejar kepentingan pribadi seperti popularitas, kekayaan, atau gengsi, ketimbang menjalankan tanggung jawab sosial dan menjaga integritas.
-
Meme (3): Aspirasi masyarakat dan isu kesenjangan
Meme memuat kalimat: “Gaji di level sekarang aja udah susah didengerin aspirasi kita, gimana lagi kalo makin tinggi?” Visualnya menampilkan figur duduk di kursi tinggi bertuliskan “gaji” dengan meja bertuliskan “dpr”, sementara orang-orang di bawah tampak berteriak. Penelitian ini menafsirkan meme tersebut sebagai kritik atas ketidaksetaraan ekonomi, keterbatasan akses dalam menyuarakan aspirasi, serta potensi konflik kepentingan yang memengaruhi siapa yang didengar dalam ruang kebijakan dan kekuasaan.
-
Meme (4): Normalisasi korupsi sebagai perubahan pandangan sosial
Meme memuat kalimat: “Zaman dulu korupsi adalah hal yang memalukan, tetapi sekarang menjadi kesempatan yang dicita-citakan.” Visualnya menggambarkan sosok berseragam dengan medali yang tertawa bahagia di samping anak kecil yang tampak kesal. Meme ini dibaca sebagai kritik terhadap normalisasi korupsi, perubahan nilai dalam masyarakat, dan bahaya membenarkan tindakan yang bertentangan dengan hukum serta etika karena dapat meremehkan dampak sosial-ekonomi korupsi.
Kesimpulan penelitian
Penelitian menyimpulkan bahwa keempat meme tersebut memuat kritik terkait: (1) kesenjangan antara janji dan kenyataan, (2) integritas kepemimpinan dalam pelayanan masyarakat, (3) tantangan ekonomi dan kesenjangan sosial dalam mendengarkan aspirasi, serta (4) perubahan pandangan sosial terhadap korupsi.
Secara umum, kajian ini menempatkan meme sebagai sarana komunikasi yang mampu menyampaikan kritik sosial, politik, dan budaya secara humoris atau provokatif sehingga dapat merangsang diskusi. Namun, penelitian juga mengingatkan bahwa meme berpotensi menyederhanakan isu kompleks dan dapat menurunkan kualitas diskusi bila dilepaskan dari konteksnya.

