BERITA TERKINI
K-popers dan Peran Fandom dalam Aktivisme Sosial-Politik

K-popers dan Peran Fandom dalam Aktivisme Sosial-Politik

Korean Pop (K-Pop) menjadi salah satu budaya Korea yang berkembang pesat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Budaya ini mulai masuk ke Indonesia sejak 2011 melalui fenomena Korean wave dan dalam beberapa tahun terakhir kian menguat sebagai budaya populer di kalangan remaja hingga orang dewasa.

Pengaruh K-Pop terlihat dari kebiasaan penggemarnya yang mengonsumsi musik, tarian, serta berbagai konten hiburan terkait. Berdasarkan data internal Twitter dalam kategori Global Tweets, Indonesia termasuk dalam 20 negara dengan penggemar K-Pop terbanyak pada 2021. Hal ini menunjukkan K-Pop memiliki daya jangkau yang besar dalam kehidupan masyarakat.

Fandom dan aktivitas di media sosial

Penggemar K-Pop umumnya terorganisasi berdasarkan grup atau idola yang mereka dukung. Kelompok ini dikenal sebagai Fan Kingdom atau fandom. Fandom K-Pop tersebar di berbagai belahan dunia, mulai dari komunitas kecil hingga besar, dan kerap aktif bersaing dalam berbagai indikator seperti chart musik, penghargaan, maupun pengakuan.

Aktivitas fandom sangat menonjol di media sosial. Laporan Twitter mencatat lebih dari 7 miliar cuitan yang memuat kata kunci K-Pop pada periode Juli 2020 hingga 30 Juni 2021. Indonesia juga menempati posisi pertama sebagai negara dengan jumlah cuitan K-Pop terbanyak. Data ini menggambarkan media sosial menjadi ruang utama bagi penggemar untuk terhubung dengan idola dan berinteraksi dengan sesama penggemar.

Dari dukungan idola ke aktivisme

Di luar aktivitas seputar idola, sebagian fandom K-Pop juga terlibat dalam aktivisme sosial. Aktivisme dimaknai sebagai partisipasi dalam suatu peristiwa atau isu yang melibatkan usaha untuk mendorong perubahan. Keberhasilannya kerap diukur dari seberapa banyak dukungan yang terkumpul terhadap isu yang diperjuangkan. Dalam praktiknya, fandom memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan kampanye dan mengoordinasikan aksi.

Contoh kegiatan aktivisme fandom K-Pop

  • Menyabotase kampanye politik di AS
    Pada 2020, fandom K-Pop mengajak orang-orang memesan tiket kampanye pemilihan presiden AS Donald Trump namun tidak hadir di acara tersebut. Kampanye itu dilaporkan hanya dihadiri 6.200 orang, jauh dari ekspektasi Trump yang mengira tiket dipesan hingga satu juta. Aksi ini kemudian menjadi perbincangan dan diberitakan secara luas.
  • Penggalangan dana
    Penggemar BTS yang dikenal sebagai ARMY menggalang dana melalui kampanye #MatchAMillion dan mengumpulkan hingga USD 1 juta untuk menyamai dana yang digalang BTS pada Gerakan BLM (Black Live Matter). Selain itu, sejumlah fandom lain seperti penggemar NCT, WayV, serta penggemar Seventeen (Carat) juga menggalang dana untuk insiden korban Kanjuruhan. Mereka memanfaatkan platform kitabisa.com dan media sosial untuk mengumpulkan donasi sekaligus menyebarkan kampanye.
  • Penolakan Omnibus Law
    Sebagian penggemar K-Pop membangun ruang diskusi untuk membahas Omnibus Law. Beberapa di antaranya membuat konten dengan sumber yang dianggap dapat dipercaya, bertukar informasi, serta saling mengoreksi materi yang diunggah.

Beragam aktivitas tersebut menunjukkan fandom K-Pop tidak hanya berkumpul karena kesamaan idola, tetapi juga dapat berperan dalam isu sosial dan politik. Aktivisme yang dijalankan, khususnya dalam ranah sosial, sekaligus memperlihatkan bagaimana komunitas penggemar memanfaatkan jejaring dan media sosial untuk menggalang dukungan serta mendorong partisipasi publik.