BERITA TERKINI
Jejak Nasution Bersaudara: Dari Gipsy, God Bless, hingga Gank Pegangsaan dan Guruh Gipsy

Jejak Nasution Bersaudara: Dari Gipsy, God Bless, hingga Gank Pegangsaan dan Guruh Gipsy

Lirik pembuka lagu “Dirimu” dari Gank Pegangsaan—“Di bening malam ini, resah rintik gerimis datang…”—telah lama menjadi bagian dari ingatan banyak pendengar. Lagu itu terus bergaung lintas generasi, dari era 1970-an hingga ruang-ruang dengar masa kini. Di balik sejumlah karya yang bertahan lama tersebut, ada nama keluarga yang kerap disebut sebagai penggerak penting perubahan dalam musik Indonesia: Nasution Bersaudara.

Nasution Bersaudara merujuk pada lima putra Saidi Hasjim Nasution, keluarga menengah atas yang tinggal di kawasan Pegangsaan, Jakarta. Mereka adalah Rada Krishnan Nasution (Keenan) pada drum dan vokal, Zulham Nasution (Joe Am), Bachmid Gaury Nasution (Gauri) pada gitar, Aumar Naudin Nasution (Odink) pada gitar, serta Debi Murti Nasution (Debby) pada kibor. Dari rumah di Pegangsaan, aktivitas bermusik mereka berkembang dan berkelindan dengan sejumlah proyek yang kelak dicatat dalam sejarah musik populer Indonesia.

Kisah awalnya bermula pada 1966 ketika Joe Am, Keenan, dan Gauri membentuk Sabda Nada bersama tetangga. Kelompok itu kemudian berganti nama menjadi Gipsy, dengan formasi awal Keenan (drum/vokal), Gauri (gitar), Onan (organ), Tammy (tiup/vokal), dan Chrisye (bass/vokal). Gipsy dikenal berani membawakan repertoar yang saat itu jarang dimainkan band lain, mulai dari Chicago dan Blood hingga Jimi Hendrix dan King Crimson.

Salah satu penanda penting Gipsy adalah keberanian memadukan rock dengan gamelan Bali. Gagasan itu disebut muncul ketika seniman asal Bali, I Wayan Suparta Widjaja, singgah di rumah keluarga Nasution dan menarik perhatian Keenan. Eksperimen tersebut dilakukan sebelum proyek Guruh Gipsy terbentuk.

Pada awal 1970-an, Gipsy sempat tampil rutin di restoran Ramayana di Amerika Serikat atas undangan Ibnu Soetowo. Sepulangnya ke Indonesia, mereka kembali tampil di Taman Ismail Marzuki (TIM) lewat kolaborasi dengan gamelan yang dipimpin Syaukat Suryabrata.

Di periode yang berdekatan, Odink dan Debby membentuk Young Gipsy. Pada 1973, keduanya direkrut God Bless untuk menggantikan Deddy Stanzah dan Soman Lubis. Keenan kemudian menyusul menggantikan Fuad Hassan yang mengalami kecelakaan. Pada 1974, formasi God Bless sempat didominasi tiga personel dari keluarga Nasution, meski mereka akhirnya hengkang karena perbedaan visi musik sebelum album perdana God Bless dirilis.

Tahun 1975, Keenan kembali bertemu Guruh Sukarno Putra yang baru pulang dari Belanda. Ide menggabungkan rock dan gamelan Bali kembali dihidupkan dan melahirkan proyek Guruh Gipsy. Rekaman dilakukan di Studio Tri Angkasa, Kebayoran Baru, yang disebut sebagai studio tercanggih pada masanya. Formasinya melibatkan Keenan (drum/vokal), Odink (gitar), Guruh (gamelan/konsep), Chrisye (bass/vokal), Abadi Soesman (kibor), serta Roni Harahap (kibor/penata musik). Album yang dihasilkan kemudian kerap disebut sebagai salah satu tonggak penting dalam perkembangan musik pop Indonesia.

Setahun setelahnya, 1977 menjadi momen besar lain lewat album “Badai Pasti Berlalu” yang digarap Erros Djarot, Yockie, Chrisye, Fariz RM, Berlian Hutauruk, serta Keenan dan Debby Nasution. Keenan dan Debby menyumbangkan lagu “Khayalku”, “Semusim”, dan “Angin Malam”, yang sebelumnya diciptakan untuk film “Perkawinan Dalam Semusim”. Album ini kemudian disebut mengubah wajah pop Indonesia.

Selepas “Badai Pasti Berlalu”, muncul Gank Pegangsaan—kumpulan anak muda yang sering berkumpul di rumah keluarga Nasution. Di dalamnya tercatat nama-nama seperti Nasution Bersaudara, Erros Djarot, Chrisye, Yockie, Fariz RM, Addie MS, serta sejumlah musisi lain.

Memasuki 1978, Keenan merilis album solo “Di Batas Angan-Angan”. Album ini memuat lagu-lagu yang kemudian dikenal luas seperti “Nuansa Bening” dan “Jamrud Khatulistiwa”. Di dalamnya juga ada “Negeriku Cintaku” berdurasi sembilan menit, ciptaan Debby dengan permainan gitar oleh Gauri. Dua album Keenan berikutnya—“Tak Semudah Kata-Kata” dan “Akhir Kelana”—disebut tidak setenar debutnya, namun Keenan tetap aktif mengisi dan menopang proyek musisi lain, termasuk Chrisye, Yockie, Fariz RM, dan Harry Sabar.

Di periode yang sama, Odink berkegiatan bersama Prambors Band yang melahirkan lagu “Kemarau”, sementara Debby mulai dipercaya menata musik untuk festival dan album, termasuk LCLR 1979. Salah satu proyek yang menonjol pada masa itu adalah Badai Band, yang dibentuk dari para musisi di balik album “Badai Pasti Berlalu”. Formasi utamanya meliputi Chrisye, Yockie, Roni Harahap, Odink, Keenan, dan Fariz RM. Badai Band dikenal dengan konsep panggung yang besar, termasuk penggunaan dua set drum (Keenan dan Fariz), lebih dari lima kibor (Yockie dan Roni), serta orkestra penuh yang dipimpin Idris Sardi pada 1979 dan 1981.

Memasuki 1980-an, Keenan melanjutkan karier dengan tujuh album solo, dengan enam di antaranya melibatkan Odink. Warna musiknya disebut bergerak dari pop progresif hingga rock. Debby kemudian lebih banyak menempuh jalur dakwah, sementara Odink tetap berkarya dalam ranah blues bersama grup Cockpit.

Pada 2007, Keenan merilis album “Dengarkan… Apa Yang Telah Kau Buat” dan menggelar konser “Nuansa Bening”. Pada 2011, digelar konser tribut “Apa Yang Telah Kau Berikan Untuk Sesama Manusia” di TIM, Jakarta. Setahun kemudian, album “Akustik” dirilis, memuat lagu-lagu lama Keenan dengan aransemen ulang. Pada 2014, “Di Batas Angan-Angan” dirilis ulang dalam format piringan hitam dan CD.

Namun, periode ini juga diwarnai kabar duka. Debby Nasution meninggal dunia pada 15 September 2018 saat mengisi ceramah karena serangan jantung. Pada 2020, materi lagunya yang belum dirilis kemudian diterbitkan dalam album “Menanti Hari”. Odink Nasution berpulang pada 27 Februari 2020 akibat gagal ginjal dan disebut tetap aktif bersama Cockpit serta Jakarta Blues Festival hingga akhir hayatnya.

Warisan Nasution Bersaudara kerap dibicarakan melalui keberanian mereka mengolah bunyi dan pendekatan musikal—mulai dari eksperimen rock dengan gamelan Bali hingga aransemen yang dianggap futuristik pada era 1970-an. Dalam daftar “150 Album Indonesia Terbaik” yang dirilis Rolling Stone Indonesia pada 2007, tiga peringkat teratas adalah album yang melibatkan Nasution Bersaudara: “Badai Pasti Berlalu”, “Guruh Gipsy”, dan LCLR 1978. Secara keseluruhan, disebut ada enam album dalam daftar tersebut yang mencantumkan nama mereka.

Ketika lagu-lagu lama kembali diputar dan lirik semacam “Semuram waktu yang berlalu, sedang ku masih menunggu” terdengar lagi, jejak Nasution Bersaudara tetap hadir sebagai bagian penting dari perjalanan musik Indonesia—bukan semata nostalgia, melainkan pengaruh yang terus dikenang.