BERITA TERKINI
Jejak Evolusi Audio: Dari Piringan Hitam, Pita Magnetik, hingga Kaset

Jejak Evolusi Audio: Dari Piringan Hitam, Pita Magnetik, hingga Kaset

Di tengah dominasi layanan musik streaming yang serba praktis, format audio fisik seperti piringan hitam, pita magnetik, dan kaset kini kerap dianggap asing oleh generasi masa kini. Namun, keberadaan benda-benda tersebut menandai perjalanan panjang perkembangan teknologi audio sekaligus menjadi bagian dari sejarah industri kreatif di Indonesia.

Salah satu fase penting dalam rekaman suara adalah era piringan hitam (vinyl). Di Galeri Tri Prasetya RRI Surabaya, tersimpan piringan hitam berwarna biru rilisan Remaco Record bertajuk “Aneka 12” yang memuat karya-karya legendaris. Pada masanya, piringan hitam dikenal menawarkan kualitas suara yang dinilai sulit ditiru format digital, sekaligus menjadi simbol status sosial dan bentuk apresiasi tinggi terhadap musik.

Namun, akses terhadap piringan hitam tidak merata. Harga turntable dan piringan hitam yang relatif mahal membuatnya lebih banyak dimiliki kalangan elit. Sementara itu, masyarakat ekonomi menengah ke bawah umumnya menikmati musik melalui siaran radio.

Selain piringan hitam, Galeri Tri Prasetya juga menampilkan reel-to-reel tape atau pita magnetik terbuka. Teknologi yang dipopulerkan oleh merek seperti Scotch ini sempat menjadi standar di studio rekaman sebelum kemudian bergeser ke format yang lebih ringkas. Pita magnetik memungkinkan proses penyuntingan dilakukan secara fisik, yakni dengan memotong dan menyambung pita, sebuah ketelitian yang menjadi cikal bakal teknik produksi musik modern.

RRI Surabaya memanfaatkan pita magnetik sejak 1955 hingga 2005. Teknologi ini juga digunakan stasiun televisi untuk mengumpulkan berita, melakukan timeshift, serta merekam konten tanpa harus mengandalkan stok film sekali pakai yang relatif mahal, karena pita magnetik memungkinkan pemakaian ulang.

Memasuki awal 1960-an, kaset mulai hadir sebagai alternatif yang lebih praktis. Kaset pertama kali diperkenalkan oleh Phillips pada 1963 di Eropa dan pada 1964 di Amerika Serikat dengan nama Compact Cassette. Produksi besar kaset disebut dimulai pada 1964 di Hanover, Jerman. Seiring popularitasnya meningkat pada 1970-an, kaset perlahan menggeser dominasi piringan hitam di industri musik.

Kehadiran kaset menjadi jawaban bagi kalangan menengah-bawah yang ingin mendengarkan lagu favorit. Format ini turut mengubah kebiasaan mendengarkan musik: dari yang sebelumnya cenderung dilakukan di rumah dengan pemutar piringan hitam berukuran besar, menjadi lebih mobile berkat perangkat seperti walkman. Dengan harga yang lebih terjangkau, musik pun dapat dinikmati oleh lebih banyak lapisan masyarakat.

Galeri Tri Prasetya RRI Surabaya tetap membuka kesempatan bagi masyarakat maupun komunitas untuk melihat langsung beragam alat rekam dari masa ke masa. Koleksi tersebut dirawat sebagai pengingat bahwa kemudahan akses musik saat ini lahir dari rangkaian panjang inovasi teknologi di masa lalu.