Perempuan yang menjalani masa pembinaan kerap menghadapi tantangan yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional. Rasa takut, cemas, kehilangan arah, hingga krisis kepercayaan diri sering muncul, terutama pada fase awal pembinaan.
Merespons kebutuhan tersebut, JCI Bandung menghadirkan LUMINA (Lighting Up Meaningful Inner Growth and Nurtured Awareness), sebuah program pemberdayaan perempuan berbasis healing circle. Program ini dirancang sebagai ruang aman agar peserta dapat memproses emosi, saling menguatkan, dan memulai proses pemulihan secara bertahap.
Program perdana LUMINA digelar di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandung. Sasaran utamanya adalah perempuan binaan yang berada di tahun pertama masa pembinaan, fase yang dinilai paling rentan secara emosional.
Local President JCI Bandung 2026, Nadia Indriani Karina, menegaskan LUMINA tidak dimaksudkan sebagai ruang ceramah satu arah, melainkan tempat bagi peserta untuk merasa didengar tanpa dihakimi. “LUMINA hadir bukan untuk mengubah siapa mereka dalam satu hari, tapi untuk membuka ruang kecil yang aman, di mana mereka bisa merasa didengar, dipahami, dan perlahan menemukan kembali kekuatan dalam dirinya,” ujar Nadia.
Dalam pelaksanaannya, LUMINA menghadirkan sesi untuk membantu peserta mengenali emosi dan menerima kondisi diri tanpa penilaian. Kegiatan meliputi group sharing bersama psikolog, journaling, serta aktivitas ekspresi diri melalui seni.
Program ini menghadirkan psikolog Efnie Indrianie, M.Si., Psikolog, dan berkolaborasi dengan Prisma Muda Community serta Semai Rasa. Dukungan juga datang dari Papermark melalui penyediaan buku jurnal.
Vice President JCI Bandung 2026, Fachry Fajar Arthabudi, menyampaikan bahwa proses pemulihan tidak selalu harus kompleks. “Kami percaya bahwa proses healing tidak selalu harus besar dan kompleks. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah ruang yang aman dan kehadiran yang tulus,” ujarnya.
Salah satu sesi yang bersifat personal dilakukan melalui aktivitas melukis sebagai medium ekspresi. Karya yang dihasilkan peserta direncanakan untuk dilelang, dengan hasil yang akan disalurkan kembali guna mendukung kegiatan pembinaan di Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung.
Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Gayatri Rachmi Rilowati, menilai pendekatan seperti LUMINA penting karena menyentuh aspek emosional dan psikologis warga binaan, bukan semata-mata administratif. Menurutnya, ruang semacam ini dapat membantu membangun kembali rasa percaya diri serta mempersiapkan perempuan binaan saat kembali ke masyarakat. “Kami sangat mengapresiasi inisiatif seperti LUMINA yang tidak hanya memberikan kegiatan, tetapi juga menyentuh aspek emosional dan psikologis warga binaan. Ini menjadi bagian penting dalam proses mereka untuk bangkit,” ungkap Gayatri.
Ke depan, LUMINA disebut dirancang sebagai gerakan berkelanjutan, bukan program sekali jalan. JCI Bandung berencana mengembangkannya agar dapat menjangkau lebih banyak perempuan dari berbagai latar belakang.