BERITA TERKINI
Interaksi Penggemar K-pop dalam Fandom: Solidaritas Kuat, Persaingan Juga Mengemuka

Interaksi Penggemar K-pop dalam Fandom: Solidaritas Kuat, Persaingan Juga Mengemuka

Gelombang budaya pop Korea atau Hallyu dalam beberapa dekade terakhir berkembang menjadi fenomena global, termasuk di Indonesia. Dalam kajian Andriani dkk. (2020), Hallyu dipaparkan sebagai penyebaran pengaruh budaya Korea Selatan ke berbagai negara melalui beragam produk hiburan, terutama musik. Sejumlah grup seperti TVXQ, Super Junior, Bigbang, 2NE1, SNSD, hingga generasi berikutnya seperti EXO, BTS, Blackpink, Seventeen, dan TWICE, disebut menjadi bagian dari arus besar tersebut dengan basis penggemar yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Daya tarik musik yang enerjik, koreografi yang kuat, serta visual para idol turut mendorong terbentuknya komunitas penggemar lintas negara. Di sisi lain, pengaruh K-pop juga dikaitkan dengan sektor pariwisata Korea Selatan. Gazza (2024) menuliskan bahwa musik K-pop berperan aktif dalam pariwisata Korea Selatan karena menjadi salah satu daya tarik yang mendorong kedatangan penggemar dari berbagai negara.

Di dalam ekosistem fandom, interaksi antar penggemar memunculkan dinamika yang tidak tunggal. Pada sisi positif, fandom K-pop kerap memperlihatkan solidaritas yang kuat. Penggemar saling berbagi informasi mengenai idol, membangun jejaring sosial, serta berkolaborasi dalam kegiatan sosial. Salah satu contoh yang disebut adalah komunitas penggemar Seventeen (Carat) yang belakangan dikenal melalui aksi sosial, termasuk proyek donasi untuk korban bencana dan upaya peningkatan literasi anak di daerah tertinggal.

Namun, solidaritas tersebut dapat berjalan berdampingan dengan sisi lain yang lebih problematik. Fenomena fanwar atau perang antar penggemar menjadi salah satu bentuk persaingan yang kerap muncul, terutama antara fandom dari grup yang berbeda. Perselisihan dapat dipicu oleh sikap kepemilikan terhadap idol—sering dirangkum dalam klaim “bias is mine”—serta kecemburuan atau ketersinggungan ketika idol tertentu dinilai lebih unggul oleh kelompok penggemar lain.

Dalam sejumlah kasus, persaingan ini berkembang menjadi hinaan, komentar negatif, hingga ancaman di media sosial. Kondisi tersebut dapat berujung pada cyberbullying dan pelecehan online, yang pada akhirnya memperburuk citra fandom dan menciptakan ketegangan dalam komunitas yang semestinya menjadi ruang berbagi ketertarikan terhadap musik dan karya para idol.

Secara keseluruhan, interaksi dalam fandom K-pop menunjukkan dua sisi yang kontras: dapat menjadi ruang kebersamaan yang produktif, tetapi juga berpotensi berubah menjadi arena persaingan yang merusak. Karena itu, diperlukan kesadaran kolektif di kalangan penggemar untuk menjaga etika berinteraksi dan saling menghormati, meski memiliki preferensi idol yang berbeda, serta menjauh dari perilaku negatif yang dapat merusak hubungan antar sesama penggemar.