Nilai tukar euro bergerak mendekati level 1,145 terhadap dolar AS pada Kamis, meski sepanjang pekan ini masih tertinggal dibanding pound sterling. Pergerakan tersebut terjadi setelah data inflasi Zona Euro yang dirilis Rabu menunjukkan angka yang lebih lemah dari perkiraan.
Inflasi umum tercatat turun menjadi 2,8% pada bulan lalu. Sementara itu, inflasi inti—yang tidak memasukkan komponen volatil—juga menurun menjadi 2,4%, atau hanya sedikit di atas target inflasi 2% yang ditetapkan Bank Sentral Eropa (ECB).
Di tengah penurunan tersebut, belum terlihat bukti kuat bahwa lonjakan harga energi baru-baru ini telah memberikan dampak signifikan terhadap tekanan harga mendasar. Kondisi ini dinilai dapat mengurangi tekanan terhadap ECB untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Presiden ECB Christine Lagarde, dalam konferensi Sintra pekan ini, kembali menegaskan bahwa kenaikan suku bunga pada Juni bukanlah langkah “asuransi”. Namun, dengan data inflasi yang belum menguat sesuai proyeksi ECB, alasan untuk melanjutkan pengetatan kebijakan moneter dinilai semakin terbatas.
Pasar kini semakin meragukan apakah ECB akan menaikkan suku bunga lagi sepanjang sisa tahun ini. Sejalan dengan itu, penguatan euro disebut cenderung moderat dan sulit bertahan, dengan kenaikan yang relatif kecil dan cepat memudar.
Pelaku pasar menanti rilis angka PMI revisi untuk Juni pada pagi hari, yang akan diikuti oleh sejumlah pidato tambahan dari pejabat Dewan Gubernur ECB.