Musisi Iga Massardi menyampaikan keluhannya terhadap penyelenggara konser musik yang dinilai tidak bertanggung jawab setelah membatalkan acara. Keluhan itu ia sampaikan melalui Instagram Story.
Pembatalan konser oleh penyelenggara belakangan menjadi persoalan besar di industri pertunjukan musik Indonesia. Setelah pandemi, puluhan konser dilaporkan batal atau dijadwal ulang, mulai dari konser musik internasional di Jakarta hingga berbagai festival di sejumlah daerah.
Kasus terbaru terjadi pada Riang Gembira (Rigem) Festival yang sedianya digelar di Yogyakarta pada 28 Maret. Festival tersebut dipastikan batal setelah penyelenggara mengumumkannya melalui akun media sosial resmi.
Band Barasuara—grup yang diperkuat Iga Massardi—tercantum dalam daftar penampil Rigem Festival bersama Idgitaf, for Revenge, The Jeblogs, dan Perunggu.
Meski tidak menyebut Rigem Festival secara spesifik, Iga melontarkan kritik keras terhadap penyelenggara yang menurutnya tidak siap dan tidak kompeten. Ia menekankan bahwa pembatalan acara bukan sekadar festival yang tidak jadi digelar, tetapi berdampak pada banyak pihak yang sudah mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya.
“Pembatalan event itu bukan cuma soal event yang tidak terjadi. Ini soal banyak orang yang sudah mengorbankan waktu, tenaga, dan uang,” tulis Iga.
Ia menyoroti penonton yang telah membeli tiket, memesan hotel, hingga membeli tiket transportasi dari luar kota yang tidak murah. Ada pula yang sudah mengambil cuti dan menyusun rencana jauh-jauh hari untuk menonton musisi idola mereka. “Kalau memang belum siap dan belum kompeten, belajar dan persiapkan semuanya dengan benar dulu. Jangan cuma bikin event lalu merusak rencana dan mata pencaharian banyak orang. Itu kejam,” lanjutnya.
Musisi berusia 40 tahun itu juga menyebut pihak yang tidak kompeten sebagai “penyelenggara festival bodong” yang dapat merusak ekosistem musik. Menurutnya, dampak pembatalan tidak hanya menimpa penonton, tetapi juga pelaku lain di industri, seperti pedagang, artis, penyewa tenant, hingga tim produksi.
“Festival bodong seperti itu bukan cuma merugikan penonton, tapi juga merusak ekosistem. Vendor dirugikan, artis dirugikan, tenant dirugikan, tim produksi dirugikan. Semua kena,” ujarnya.
Iga turut menyampaikan apresiasi kepada penyelenggara festival yang dinilainya serius, profesional, dan bertanggung jawab. Ia berharap pihak yang tidak bertanggung jawab perlahan menghilang, sementara penyelenggara yang berniat bekerja dengan baik dapat terus bertahan.

