BERITA TERKINI
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi: Tidak Selalu Bisa Bersepeda ke Kantor, Tergantung Agenda Dinas

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi: Tidak Selalu Bisa Bersepeda ke Kantor, Tergantung Agenda Dinas

SEMARANG—Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengaku tidak bisa setiap hari berangkat ke kantor menggunakan sepeda. Pernyataan itu disampaikan untuk merespons warganet yang mempertanyakan konsistensi kebijakan “bike to work” yang sebelumnya ia contohkan sebagai bagian dari upaya penghematan energi.

Luthfi mengatakan penggunaan sepeda perlu menyesuaikan jadwal kegiatan, terutama bagi pejabat yang memiliki mobilitas tinggi dan kerap menjalankan agenda dinas ke luar kota.

“Saya kemarin naik sepeda, lihat jadwal dong. Kalau sekarang jadwal saya full di kantor bisa naik sepeda, kalau nanti siang saya harus pergi ke Solo, naik sepeda, sampai sana acaranya bubar,” ujar Luthfi saat ditemui di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Jumat, 10 April 2026.

Menurut mantan Kapolda Jawa Tengah itu, bersepeda tidak bisa dipaksakan untuk semua aktivitas. Ia menilai perlu ada pertimbangan kapan penggunaan sepeda memungkinkan dan kapan harus memilih moda transportasi lain sesuai kebutuhan.

“Artinya kita harus milah dan milih kapan harus kita lakukan,” imbuhnya.

Luthfi menegaskan, kebijakan hemat energi yang ia dorong tidak semata soal bersepeda ke kantor, melainkan membangun kesadaran kolektif di lingkungan aparatur sipil negara (ASN). Ia menyebut langkah sederhana seperti berjalan kaki atau bersepeda untuk jarak dekat dapat menjadi bagian dari penghematan energi.

“Dan kegiatan ini jadikan budaya, bukan karena ada WFH dan lain sebagainya. Jadikan budaya bagi seluruh ASN kita untuk hemat energi. Contohnya, selama itu kita bisa lari dari sini ke situ kan enggak masalah, atau naik sepeda, enggak ada masalah. Jadikanlah budaya, tidak harus naik mobil,” ujarnya.

Ia juga mencontohkan perjalanan dari kediaman dinasnya di Puri Gedeh menuju Kantor Gubernur yang dinilai masih memungkinkan ditempuh tanpa kendaraan bermotor.

Dalam kesempatan yang sama, Luthfi menyinggung pelaksanaan work from home (WFH) yang menurutnya tidak boleh disalahgunakan. Ia menekankan, kebijakan hemat energi harus dibarengi kedisiplinan dan kesadaran, bukan sekadar mengikuti aturan.

“Suruh WFH di rumah, malah dolan (jalan-jalan). Nah, misalnya begitu. Bukan hemat energi, malah tambah enggak jelas,” tambahnya.

Luthfi menilai tanpa kesadaran individu, kebijakan penghematan energi tidak akan berjalan efektif meskipun sudah diatur. “Kalau tanpa adanya kesadaran di seluruh ASN kita, percuma kita tekan-tekan untuk hemat energi,” tegasnya.