Generasi Z yang lahir dan tumbuh di era digital kerap diasosiasikan dengan kebiasaan serba gawai, termasuk dalam urusan membaca. Di tengah kemunculan e-book dan audiobook yang menawarkan kemudahan, muncul fenomena yang dinilai tidak lazim: sebagian Gen Z justru menunjukkan kecenderungan kembali memilih buku cetak.
Salah satu alasan yang mengemuka adalah kelelahan digital. Fenomena ini menguat ketika pandemi Covid-19 membuat banyak aktivitas beralih ke ranah daring. Dalam situasi tersebut, membaca buku fisik menjadi semacam pelarian dari paparan layar yang terus-menerus.
Membaca buku cetak dinilai memberi jeda dari berbagai gangguan digital. Tanpa notifikasi dan iklan, pembaca hanya berhadapan dengan kertas, tulisan, dan gagasan di dalamnya. Sejumlah orang juga menilai buku fisik menghadirkan atmosfer membaca yang khas—mulai dari aroma buku, suara lembaran yang dibalik, tekstur kertas, hingga bobot buku di tangan.
Dari sisi konsentrasi, buku cetak kerap dianggap membantu pembaca lebih fokus dibanding membaca melalui perangkat digital. Saat membaca di gawai, godaan untuk berpindah aplikasi, mengecek media sosial, atau melakukan aktivitas lain lebih mudah muncul. Sementara dengan buku fisik, pembaca dapat menjaga jarak dari ponsel dan memusatkan perhatian pada bacaan.
Alternatif untuk meminimalkan distraksi juga disebut dapat dilakukan dengan membaca e-book melalui perangkat seperti Kindle. Namun, perangkat semacam itu tetap dinilai belum sepenuhnya mampu menghadirkan pengalaman yang sama seperti membaca buku fisik.
Menariknya, kembalinya minat pada buku cetak turut dipengaruhi media sosial. Di X, ada base membaca seperti @basebuku. Di TikTok, komunitas #booktok berkembang besar. Di Instagram, konten buku bermunculan, termasuk tren #shelfie—akronim dari shelf selfie—yakni berfoto dengan rak buku. Berbagai tren ini umumnya berisi ulasan buku, permintaan rekomendasi, dan diskusi seputar bacaan, sehingga membaca tidak hanya dipandang sebagai hobi atau sarana menambah pengetahuan, tetapi juga bagian dari gaya hidup.
Di luar ruang digital, komunitas buku yang berkumpul secara konvensional di ruang publik ikut mendorong tren membaca buku cetak. Dari kota hingga desa, banyak daerah setidaknya memiliki komunitas pegiat baca. Salah satu yang disebut memiliki jangkauan besar adalah Indonesia Book Party, yang memiliki cabang daerah dengan penamaan sesuai wilayah, seperti Jakarta Book Party, Bandung Book Party, Tegal Book Party, dan lainnya.
Meski memiliki sejumlah kelebihan, buku cetak juga menghadapi tantangan. Harga buku fisik cenderung lebih mahal dibanding e-book, terutama untuk buku impor. Bagi wilayah di luar Pulau Jawa, ongkos kirim kerap menambah beban biaya. Selain itu, perawatan dan penyimpanan buku menjadi persoalan tersendiri, terutama bagi mereka yang tinggal di kota besar dan memiliki ruang terbatas.
Di sisi lain, meningkatnya minat belum tentu berbanding lurus dengan daya baca. Keinginan untuk membaca disebut telah terbentuk, namun sebagian Gen Z masih dihadapkan pada tantangan ketahanan membaca yang dinilai cukup lemah.

