Perupa asal Banyumas mengaku bangga setelah film dokumenter bertema lukisan Sokaraja meraih penghargaan Dokumenter Pelajar Terbaik dalam Festival Film Purbalingga (FFP) 2024. Film berjudul Yang Tergerus Waktu (2024) tersebut diproduksi Cinemadoea SMA Negeri 2 Purwokerto.
Sutradara film, Seno Aulia Wijayanto, mengangkat kisah empat tokoh seni rupa Sokaraja. Ia menyebut proses riset dilakukan selama tiga bulan, sementara pengambilan gambar berlangsung sekitar dua minggu dengan total empat narasumber.
Perupa Sokaraja: Dokumentasi Seni Lokal Penting
Perupa asal Sokaraja, Zen Ahmad, menilai karya pelajar yang mendokumentasikan perjalanan seni budaya lokal Banyumas sebagai hal yang patut diapresiasi. Menurutnya, pembahasan seni lukis di Banyumas tidak bisa dilepaskan dari tradisi lukisan Sokaraja yang memiliki cerita dan ciri khas tersendiri.
Zen Ahmad yang juga Ketua Ikatan Pelukis Banyumas (IPB) menjelaskan, lukisan Sokaraja identik dengan gaya naturalis atau yang dikenal dengan istilah mooij indie (indie molek). Ia menyebut, saat ini tidak banyak perupa yang masih mempertahankan gaya tersebut.
Harapan Membangun Kecintaan Lintas Generasi
Zen Ahmad berharap kehadiran film dokumenter Yang Tergerus Waktu dapat menggugah kecintaan lintas generasi terhadap seni budaya lokal. Ia menyebut masih ada sekitar 15 orang yang meneruskan gaya lukisan Sokaraja.
“Semoga ke depannya generasi muda makin mencintai budaya lokalnya,” kata Zen Ahmad melalui aplikasi pesan, Senin (29/7/2024).
Menang di Malam Penganugerahan FFP 2024
Film Yang Tergerus Waktu dinyatakan sebagai pemenang setelah menyisihkan empat nominator. Pengumuman dilakukan pada Malam Penganugerahan FFP 2024 di Bioskop Misbar Purbalingga, Sabtu (27/7/2024).
Seno, yang merupakan siswa kelas XI SMA Negeri 2 Purwokerto, mengatakan film pendek perdananya itu direncanakan diputar berkeliling ke sejumlah festival.

