Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival menjadi salah satu perayaan tradisional yang dinanti masyarakat Tionghoa di berbagai negara. Perayaan ini identik dengan tradisi menyantap kue bulan bersama keluarga sambil menikmati bulan purnama.
Dikenal juga sebagai Festival Pertengahan Musim Gugur atau Mid-Autumn Festival, perayaan ini bukan hanya momen kebersamaan, tetapi juga menyimpan nilai budaya dan sejarah yang telah bertahan lama.
Festival Kue Bulan merupakan perayaan tradisional Tionghoa yang jatuh pada hari ke-15 bulan ke-8 dalam penanggalan Imlek. Waktu tersebut bertepatan dengan musim gugur, ketika bulan pada malam hari dipercaya tampak bulat sempurna. Bulan purnama kemudian dimaknai sebagai lambang kesatuan dan keharmonisan keluarga.
Makanan khas yang selalu hadir adalah kue bulan atau mooncake. Kue berbentuk bulat ini hadir dalam berbagai isian dan kerap dimaknai sebagai simbol keutuhan, keberuntungan, serta doa untuk kebahagiaan. Tradisi perayaan ini juga dipandang sebagai ungkapan syukur atas hasil panen.
Berdasarkan kalender lunar, Festival Kue Bulan 2025 jatuh pada Senin, 6 Oktober 2025. Pada malam perayaan, masyarakat biasanya berkumpul bersama keluarga, menyalakan lentera, dan berbagi kue bulan sebagai simbol kebersamaan.
Di berbagai kota yang memiliki komunitas Tionghoa, perayaan ini kerap dimeriahkan dengan festival lentera, pertunjukan budaya, hingga bazar kuliner khas. Festival Kue Bulan juga disebut sebagai salah satu hari libur tradisional terbesar setelah Tahun Baru Imlek.
Festival Kue Bulan memiliki sejarah panjang yang disebut telah berlangsung sejak lebih dari 3.000 tahun lalu, bermula pada masa Dinasti Zhou. Pada awalnya, perayaan ini dipersembahkan sebagai bentuk penghormatan kepada dewa bulan. Seiring waktu, maknanya berkembang menjadi simbol reuni keluarga dan doa untuk keberuntungan.
Salah satu legenda yang lekat dengan Festival Kue Bulan adalah kisah Chang'e, dewi bulan yang dipercaya tinggal di istana bulan. Cerita tersebut menjadi bagian dari tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi dan masih sering dikaitkan dengan perayaan hingga kini.
Melalui simbol bulan purnama, festival ini juga dipandang sebagai pengingat akan pentingnya persatuan dan rasa syukur, sekaligus ajakan untuk menghargai hubungan dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.

