BERITA TERKINI
Fenomena Fandom K-Pop di Indonesia: Dari Dukungan Idola hingga Aksi Sosial

Fenomena Fandom K-Pop di Indonesia: Dari Dukungan Idola hingga Aksi Sosial

Fandom K-Pop kerap mendapat cibiran dari sebagian orang awam. Namun, di balik citra tersebut, sejumlah komunitas penggemar justru menunjukkan aktivitas sosial yang berdampak. Salah satu contohnya terlihat saat berbagai fandom K-Pop di Indonesia ikut menggalang dana untuk peristiwa Tragedi Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur, dengan total donasi yang disebut mencapai hampir Rp1 miliar.

Munculnya fandom K-Pop merupakan imbas dari Hallyu atau gelombang Korean Wave yang menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Fenomena ini merebak lewat musik dan budaya Korea, yang disebut pertama kali dipopulerkan jurnalis di Beijing pada dekade 1900-an.

Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu negara dengan fanbase K-Pop terbesar di dunia. Sejumlah fandom yang memiliki basis besar antara lain ARMY (penggemar BTS), Carat (penggemar SEVENTEEN), Blink (penggemar BLACKPINK), ELF (penggemar Super Junior), serta NCTZen (penggemar NCT 127), dan lainnya.

Aktivitas sosial di berbagai komunitas fandom

Alih-alih hanya berfokus pada dukungan terhadap idola, sejumlah komunitas fandom juga menjalankan kegiatan sosial yang ditujukan bagi masyarakat dan lingkungan di Indonesia.

ARMY Indonesia: proyek sosial lintas daerah

Salah satu contoh datang dari ARMY Indonesia, sebutan bagi penggemar BTS. Komunitas ini dibentuk pada 2014 dan disebut kerap mengadakan proyek kegiatan sosial serta kegiatan internal saat ulang tahun anggota BTS. Mereka juga menegaskan tidak berafiliasi langsung dengan agensi BTS yang ada di Indonesia.

Seorang anggota ARMY Indonesia bernama Bunga menyebut grup tersebut beranggotakan sekitar 700 orang. Ia mengatakan komunitasnya pernah mengadakan kegiatan sosial berupa pembagian makan siang di Kampung Pemulung Cassablanca dan Bilik Pintar Jakarta untuk menyambut ulang tahun member BTS, Jimin. Menurutnya, kelompok yang didominasi anak muda yang masih kuliah itu juga kerap menjalankan proyek bersama fandom ARMY dari daerah untuk kegiatan kemanusiaan.

Dari daerah, Ketua ARMY Lombok Hardyanti mengatakan komunitasnya juga rutin melakukan kegiatan sosial, seperti melepas tukik ke pantai, bantuan sosial untuk korban bencana, hingga penggalangan dana untuk Tragedi Kanjuruhan yang disebut mencapai Rp447 juta.

Terkait keterhubungan dengan ARMY dari daerah lain, Hardyanti menyebut tidak ada hubungan istimewa. Ia mengatakan fandom ARMY disatukan melalui platform media sosial, sementara tiap daerah memiliki pengurus, anggota, dan kegiatan masing-masing. Selain berbasis wilayah, ada pula kelompok yang dibentuk berdasarkan kategori tertentu.

Hardyanti juga menyebut adanya kelompok-kelompok ARMY dengan fokus khusus, seperti AHC (ARMY Help Center) yang bergerak di bidang kesehatan mental, ARMY Advokat yang berkaitan dengan bidang hukum, serta fanbase daerah yang mengurusi informasi lowongan kerja dan beasiswa.

Di Kota Salatiga, Ketua ARMY setempat Tina mengatakan komunitasnya juga sering melakukan kegiatan sosial yang umumnya digelar saat ulang tahun member BTS. Kegiatan tersebut disebut meliputi amal, melukis bersama, hingga pembagian makan siang untuk warga setempat. Tina menyebut grup komunitasnya memiliki lebih dari 200 anggota di aplikasi pesan instan dan berdiri sejak 2017. Ia menilai komunitas itu dapat menjadi wadah positif untuk menyalurkan hobi, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri anggota melalui interaksi sosial yang baik.

Carats Indonesia: penggalangan dana dan koordinasi daring

Dari fandom SEVENTEEN, Ketua Carats Indonesia Raras menyampaikan bahwa komunitas penggemar juga memiliki misi kemanusiaan, meski berbeda fandom. Ia mengatakan Carats Indonesia ikut menggalang dana untuk Tragedi Kanjuruhan dengan total Rp150 juta.

Raras menambahkan, komunitas Carats di Indonesia jarang melakukan kegiatan offline dan banyak disatukan melalui SVT Billboard serta Worldwide Carats yang berisi komunitas fandom Carats dari berbagai negara. Ia menyebut Carats Indonesia bukan organisasi resmi dan tidak memiliki ketua, melainkan dikelola oleh tiga admin yang aktif mengurus unggahan di Instagram dan Twitter.

Menurut Raras, komunitasnya membuka penggalangan dana ketika ada kebutuhan bantuan kemanusiaan. Ia menyatakan kegiatan positif akan dijalankan selama bertujuan untuk kebaikan.

Lebih dari sekadar fanatisme

Rangkaian aktivitas tersebut menunjukkan bahwa sebagian fandom K-Pop di Indonesia tidak hanya berfokus pada dukungan terhadap idola, tetapi juga membangun jejaring komunitas dan menjalankan aksi sosial. Dalam beberapa peristiwa, termasuk Tragedi Kanjuruhan, kekuatan pengorganisasian melalui media sosial turut menjadi modal penting dalam menghimpun bantuan.