BERITA TERKINI
Encore: Tradisi dari Opera yang Bertahan di Konser Modern

Encore: Tradisi dari Opera yang Bertahan di Konser Modern

Istilah encore telah menjadi bagian akrab bagi penikmat konser musik. Momen ketika band kembali ke panggung setelah sempat berpamitan kerap dinanti, seolah menjadi penutup yang melengkapi pengalaman menonton. Namun, tradisi ini ternyata memiliki jejak sejarah panjang dan memunculkan perdebatan di kalangan penonton.

Menurut penjelasan host Richard Osman yang dikutip dari huffingtonpost.co.uk, praktik encore berakar dari era opera. Pada masa itu, penyanyi opera biasanya menyiapkan lagu tambahan atau aria yang dapat dinyanyikan kembali jika penonton memintanya. Seruan “encore” dari audiens menjadi sinyal bagi artis untuk kembali tampil.

Tradisi tersebut kemudian terbawa hingga ke konser musik modern. Osman menilai, encore tidak selalu mengandung makna yang terlalu dalam, melainkan kebiasaan yang bertahan karena disukai penonton. Dalam praktiknya, encore juga kerap terkait strategi band yang menyimpan lagu-lagu populer di bagian akhir agar penonton tetap bertahan sampai pertunjukan selesai.

Meski demikian, tidak semua penonton memandang encore sebagai momen istimewa. Seperti dikutip dari theguardian.com, sebagian penikmat konser berpengalaman menganggap ritual ini terlalu “terencana” sehingga kehilangan unsur kejutan. Banyak band disebut sudah menyiapkan daftar lagu encore sejak awal, bahkan lengkap dengan urutan penampilan.

Kritik muncul karena encore sering terasa sebagai bagian dari skenario, bukan respons spontan atas permintaan penonton. Faktor teknis seperti batas waktu konser, kontrak, hingga pengaturan pencahayaan dan visual turut membuat encore harus dirancang secara presisi.

Di sisi lain, ada musisi yang pernah menghadirkan encore tak terduga. Band asal Inggris, New Order, dikenal kerap memberi kejutan, mulai dari membawakan lagu yang tidak disangka hingga kembali ke panggung setelah jeda cukup lama. Namun seiring waktu, band ini pun disebut akhirnya mengikuti pola encore yang lebih konvensional.

Sejumlah musisi juga memilih meninggalkan tradisi ini sama sekali. Band seperti Arctic Monkeys dan The Wedding Present diketahui pernah tampil tanpa encore sebagai bentuk penolakan terhadap ritual yang dinilai terlalu dibuat-buat.

Terlepas dari pro dan kontra, encore tetap bertahan sebagai bagian dari pengalaman konser. Bagi sebagian orang, momen ini bisa menjadi penutup yang berkesan—baik sebagai bentuk interaksi dengan penonton maupun sekadar tradisi yang terus hidup di dunia musik.