Fenomena hallyu atau gelombang Korea terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. K-drama, K-fashion, hingga K-pop mengalami pertumbuhan pesat secara global. Dalam konteks K-pop, popularitas ini tidak hanya didorong oleh bakat para idola dan musik yang mudah melekat di ingatan, tetapi juga oleh dukungan penggemar yang konsisten.
Hubungan idola dan penggemar yang dimediasi platform
Idola K-pop dan penggemarnya kerap digambarkan memiliki hubungan yang terasa lebih dekat dibanding banyak artis Barat. Label K-pop mengembangkan cara yang membuat penggemar merasa memiliki akses langsung kepada idola, antara lain melalui pertemuan penggemar daring dan penggunaan platform media sosial.
Kedekatan ini berkaitan dengan interaksi parasosial (parasocial interaction/PSI), yakni bentuk hubungan psikologis yang dialami audiens ketika berinteraksi dengan idola melalui media massa, terutama televisi dan platform online. Melalui interaksi yang berlimpah, PSI dapat membentuk ikatan emosional antara idola dan penggemar.
Budaya fandom dan terbentuknya identitas kolektif
Dari ikatan tersebut, penggemar membangun budaya fandom: komunitas yang terbentuk untuk berbagi kesenangan pada aspek tertentu dari budaya populer. Komunitas ini memungkinkan para penggemar tetap terhubung meski belum pernah bertemu secara langsung.
Ketika persahabatan terbentuk atas dasar minat yang sama, penggemar dapat mengembangkan rasa memiliki satu sama lain. Dari sini muncul identitas kolektif, misalnya penggemar BTS yang menyebut diri mereka sebagai “Army”.
Identitas kolektif itu kemudian bermuara pada konstruksi imagined community, sebuah konsep yang memandang aktivitas fandom serupa dengan cara warga mempraktikkan nasionalisme, namun bersifat “dibayangkan” karena aktivitasnya dimediasi di ruang online. Dalam konteks K-pop, media sosial seperti Twitter kerap dianggap sebagai ruang tempat berbagai kegiatan fandom berlangsung.
Peran Twitter dalam aktivitas fandom
Sejumlah kemudahan yang ditawarkan Twitter—seperti fitur tagar, penandaan akun, dan tautan—menjadi salah satu alasan platform ini banyak digunakan penggemar K-pop. Fitur-fitur tersebut membantu penggemar mengoordinasikan aktivitas, menyebarkan informasi, dan memperkuat keterhubungan dalam komunitas.
Dukungan emosional dan finansial dalam ekonomi K-pop
Dalam budaya fandom, dukungan kepada idola tidak berhenti pada aspek emosional. Penggemar juga berperan sebagai konsumen yang menopang sisi bisnis K-pop. Industri ini dikenal berorientasi pada bisnis, sementara para idola disebut kerap harus membayar kembali hutang masa pelatihan (trainee).
Karena itu, sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak artis Korea tidak menghasilkan banyak uang jika tidak mencapai status langka sebagai grup terlaris, seperti BTS. Pada akhirnya, kesuksesan sebuah grup semakin bergantung pada kinerja penggemar mereka sebagai konsumen.

