Penyanyi Duy Hung telah lama berkecimpung dalam musik Trinh Cong Son dan membangun ciri khas melalui gaya bernyanyi yang sederhana, emosional, serta kontemplatif. Dalam album terbarunya, The Shape of a Smile, ia mengajak pendengar memasuki ruang filosofis dan nostalgia yang lekat dengan karya-karya Trinh Cong Son. Melodi yang sudah akrab disajikan dengan lembut dan mendalam, membuka tafsir yang terasa segar tentang cinta dan kehidupan.
Album tersebut memuat pilihan lagu-lagu populer Trịnh Công Sơn, antara lain “Chiếc lá thu phai” (Fading Autumn Leaf), “Diễm xưa” (Ancient Beauty), “Bốn mùa thay lá” (Four Seasons Changing Leaves), “Rừng xưa đã xếp” (The Old Forest Has Closed), “Chỉ có ta trong đời” (Hanya Kita yang Hidup), “Tình nhớ” (Mengingat Cinta), “Vết lăn trầm” (Sangat Usang), “Ru đời đi nhé” (Lullaby for Life), dan “Rồi như đá ngây ngô” (Kemudian Seperti a (Naive Stone). Duy Hung menempatkan pendekatan bertutur sebagai benang merah, seolah menyampaikan perasaan terdalamnya tanpa menonjolkan vokal, melainkan seperti berbisik.
Salah satu sorotan datang dari “Chỉ có ta trong đời”, lagu yang disebut kurang dikenal di kalangan pecinta musik. Duy Hung memilihnya sebagai titik tekan album dan berupaya menyampaikan kesepian serta perenungan tentang eksistensi manusia yang terkandung dalam lirik. Sementara itu, pada lagu-lagu yang lebih familiar seperti “Diễm xưa” dan “Rừng xưa đã xếp”, ia tetap menghadirkan kesan emosional yang kuat melalui penyajian yang intim.
Duy Hung menyampaikan bahwa karya-karya Trinh Cong Son membantunya menorehkan pencapaian di panggung profesional. Ia menyatakan rasa syukur dan mengupayakan, dari hari ke hari, untuk menangkap semangat musik Trinh Cong Son dalam setiap penampilan: otentik, sederhana, dan menyentuh emosi.
Di sisi lain, penyanyi sekaligus jurnalis Khoi Minh juga merilis album berjudul Therefore I Love, yang dikerjakan hampir selama lima tahun. Album ini berisi 10 lagu karya Trinh Cong Son dan disebut menghadirkan komposisi yang mendalam dengan energi positif. Kekhasannya terletak pada masuknya bagian-bagian X (bagian musik dengan lirik tambahan), rap, serta improvisasi vokal yang ditambahkan untuk memperkuat tema dan membangun ragam emosi.
Dalam lagu “Tinggal di Kamar Sewaan” dan “Ziarah di Bukit Tinggi”, Khoi Minh menggabungkan rap melodis sebagai bentuk dialog antara generasi muda dan seniman senior, sekaligus membawa cerita tentang relasi antarmanusia. Sementara pada “Air Mata Keabadian”, kolaborasi vokal Khoi Minh dengan Seniman Berprestasi Lan Anh menghadirkan penampilan yang disebut unik dan indah dalam setiap melodi. Aransemen dan orkestrasi album ini ditangani musisi Vu Minh Tam, yang dikenal melalui program “Lagu Vietnam”.
Melalui dua rilisan tersebut, terlihat bagaimana setiap artis menempuh jalan berbeda untuk mendekati musik Trinh Cong Son. Ada yang memilih kesederhanaan dan keintiman layaknya narasi personal, sementara yang lain berani menghadirkan sentuhan kontemporer. Keragaman pendekatan inilah yang membuat dunia musik Trinh Cong Son terus beresonansi dan tetap menyentuh hati lintas generasi.