BERITA TERKINI
Dugaan Pelecehan Seksual di Konser Solidaritas Andrie Yunus, Cholil Mahmud Minta Publik Berpihak pada Korban

Dugaan Pelecehan Seksual di Konser Solidaritas Andrie Yunus, Cholil Mahmud Minta Publik Berpihak pada Korban

Jakarta — Gelaran konser solidaritas Dari Warga untuk Andrie Yunus yang diinisiasi Music Declares Emergency Indonesia di M Bloc Live House, Senin, 27 April 2026, diwarnai dugaan pelecehan seksual terhadap dua penonton perempuan. Salah satu korban dilaporkan masih berstatus pelajar di bawah umur.

Kabar dugaan insiden tersebut mencuat setelah akun X @bluevelyz, yang disebut sebagai perwakilan dari salah satu pihak korban, mengunggah utas pada Selasa, 28 April 2026. Unggahan itu memuat kronologi kejadian yang dialami rekannya, termasuk tangkapan layar percakapan dengan korban.

Dalam tangkapan layar tersebut, korban menyebut mengalami pelecehan non-verbal saat band Down For Life tampil. Korban menuturkan, terduga pelaku berinisial FC mendekati mereka ketika suasana moshpit memanas. FC disebut berpura-pura membantu mencari kacamata korban yang terjatuh sekaligus mengaku ingin melindungi mereka agar tidak terhimpit penonton lain.

“Kejadiannya pas band Down for Life main, di situ penonton buat lingkaran (circle pit). Aku dan temen² menepi ke samping. Di situ pelaku bilang ‘hati-hati ya barangnya’. Pelaku berada di samping aku, kaya seolah-olah mau jagain. Nggak lama pelaku mulai memegang lengan, memegang kepala, dan mengelus-ngelus,” tulis korban dalam kesaksian yang dikutip dari unggahan tersebut.

Korban lain yang dilaporkan masih duduk di bangku sekolah juga disebut mengalami perlakuan serupa. Menurut kesaksian yang sama, korban di bawah umur itu beberapa kali disentuh pada bagian bahu dan dielus kepala tanpa izin.

Musisi sekaligus aktivis Cholil Mahmud, yang turut tampil dalam acara tersebut, merespons dugaan insiden itu. Ditemui di Gudskul, Jakarta Selatan, Kamis, 30 April 2026, vokalis Efek Rumah Kaca ini mengapresiasi keberanian korban yang berani bersuara.

“Menurut gue, fenomena banyak orang mulai berani angkat bicara itu bagus sekali. Musik itu sudah ada sejak lama, tapi budaya untuk memiliki perilaku yang lebih menghormati sesama itu sebenarnya hal yang relatif baru di masyarakat kita,” kata Cholil.

Cholil menilai perubahan budaya saling menghormati memang tidak mudah, termasuk karena adanya ketimpangan relasi kuasa yang sudah lama terjadi. Ia menekankan pentingnya komunitas yang saling melindungi sebagai langkah awal untuk membuat skena musik lebih aman.

“Memang tidak mudah untuk mengubah hubungan kekuasaan yang tidak seimbang yang sudah lama hidup di masyarakat. Jadi, ketika ada komunitas yang mencoba melindungi sesamanya dan mendeteksi adanya upaya terbuka, itu langkah yang bagus. Harapannya, skena kita bisa jadi lebih bersih,” ujarnya.

Ia juga mendorong adanya proteksi dan infrastruktur, baik formal maupun informal, agar pelaku dapat dimintai pertanggungjawaban. Cholil menilai sanksi sosial diperlukan sebagai efek jera, sekaligus menegaskan pentingnya keberpihakan publik kepada korban.

“Tentu kita ingin hal seperti itu tidak terjadi. Tapi jika terjadi, kita harus punya proteksi dan infrastruktur, baik yang formal maupun informal, untuk menuntut pertanggungjawaban dari pelaku. Sanksi sosial itu perlu agar ada efek jera. Publik juga harus memiliki keberpihakan kepada korban dan mau mendengarkan mereka,” ucapnya.

Cholil menambahkan, korban kerap menghadapi beban ganda karena selain mengalami peristiwa tidak menyenangkan, mereka juga masih harus berjuang agar kesaksiannya dipercaya.

“Selama ini, penderita korban itu ‘double-double’; sudah jadi korban, saat bercerita pun sering tidak dipercaya atau malah dihakimi,” kata Cholil.

Terkait desakan dari pihak korban agar terduga pelaku mendatangi Kios Ojo Keos untuk mediasi, Cholil mengaku belum mengetahui konteks detailnya. Namun ia menilai respons masyarakat yang berupaya melindungi korban sebagai sinyal positif untuk membangun mekanisme pertanggungjawaban yang lebih baik ke depan.

“Mengenai alasan pihak korban/pelaku ingin mendatangi Kios (Kios Ojo Keos), saya kurang tahu konteks detailnya. Mungkin karena Efek Rumah Kaca (ERK) sering berkegiatan di sana, sehingga banyak orang yang datang. Namun secara umum, respon masyarakat yang sudah berpihak pada korban dan mencoba melindungi adalah pertanda baik. Kita memerlukan mekanisme yang lebih baik untuk menuntut pertanggungjawaban pelaku,” ujarnya.