Skena musik Sumatera Selatan kembali menunjukkan geliat melalui kolaborasi dua musisi lokal, Derga dan Nesto, yang kembali berkarya setelah vakum lebih dari 20 tahun. Kembalinya mereka ditandai dengan proyek musik yang memuat pesan sosial dan lahir dari keresahan terhadap situasi global yang dinilai kian memanas.
Isu konflik internasional serta ancaman perang dunia menjadi latar utama karya terbaru mereka. Tema tersebut diterjemahkan lewat pendekatan musik yang kritis dan berenergi, memadukan hip-hop dan funk rock dalam satu karakter yang kuat.
Dalam rilis yang diterima RRI Palembang pada Rabu, 22 April 2026, Nesto disebut menghadirkan gaya hip-hop dengan lirik tajam, sementara Derga melengkapi aransemen melalui sentuhan funk rock yang kaya harmoni. Perpaduan dua genre itu dinilai membentuk warna musik yang berbeda dan berpotensi menjangkau pendengar lintas generasi.
Kolaborasi yang mengusung nama Derga X Nesto ini memperkenalkan single perdana berjudul Post Traumatic Stress Disorder. Lagu tersebut membawa pesan anti-perang yang menjadi fokus utama karya mereka, dikemas melalui ritme energik dan lirik reflektif untuk menggambarkan dampak konflik terhadap kehidupan manusia.
“Perang tidak menghasilkan apa-apa. Stop World War 3! Perang hanya akan menghasilkan debu dan air mata,” ujar Derga dan Nesto.
Pesan tersebut menjadi inti narasi yang ingin mereka sampaikan kepada pendengar. Mereka berharap musik dapat menjadi medium untuk mengajak publik menolak kekerasan dan menyuarakan penolakan terhadap perang.
Bagi Derga, kembalinya ke industri musik juga menjadi perjalanan emosional setelah vakum panjang, sekaligus ruang untuk kembali menyampaikan gagasan melalui karya. “Semoga karya kami dapat diterima banyak orang dan semua bisa bersatu menyuarakan stop untuk perang,” ujarnya.
Single Post Traumatic Stress Disorder dijadwalkan rilis pada Mei 2026 melalui berbagai platform digital. Derga X Nesto menyatakan optimistis karya tersebut dapat memberi warna baru bagi industri musik nasional.