Lê Minh Tâm menempuh perjalanan panjang dari seorang siswa tunanetra hingga kembali ke tempat ia dibesarkan sebagai pendidik. Setelah belajar di Pusat Pendidikan Anak Tunanetra Provinsi sejak usia 10 tahun, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Pendidikan Kota Ho Chi Minh dan lulus pada 2016. Usai menyelesaikan kuliah, ia kembali ke pusat tersebut sebagai guru, mengajar musik dan ilmu komputer.
Wakil Direktur Pusat Pendidikan Anak Tunanetra Provinsi, Cao Thi Thu Thanh, mengatakan Tâm merupakan sosok yang tidak hanya menguasai banyak alat musik, tetapi juga dikenal sebagai komposer. Menurut Thanh, lagu-lagu ciptaan Tâm berbicara tentang kehidupan, keyakinan, dan kemauan untuk berjuang meraih keberhasilan. Ia juga menilai Tâm konsisten menjaga prestasi akademik sejak masih di pusat hingga menempuh pendidikan tinggi.
Tâm berasal dari keluarga kurang mampu dan memiliki kakak laki-laki yang juga tunanetra. Ia sempat membayangkan hidupnya akan berjalan seperti kebanyakan orang di sekitarnya: mempelajari keterampilan yang memungkinkan untuk bertahan hidup dan mencari nafkah. Namun, pengalaman pertamanya mengenal huruf Braille dan belajar di pusat pendidikan itu mengubah cara pandangnya. Dari sana, ia mulai menumbuhkan aspirasi baru melalui pengetahuan.
Mengenang masa awal di pusat, Tâm bercerita ia sempat merasa takut karena jauh dari rumah, berada di tempat asing, dan tidak dapat melihat apa pun. Ia mengaku lebih banyak diam dan enggan berinteraksi. Seiring waktu, perhatian para guru membuatnya merasa diterima, dan kesempatan untuk bersekolah perlahan mengubah pola pikirnya.
Perjalanan menuju bangku kuliah tidak mudah. Thanh menuturkan, pada masa itu dukungan akademis untuk mahasiswa tunanetra masih terbatas. Untuk menutup biaya hidup, Tâm menjual tiket lotere, namun tetap mempertahankan hasil belajar yang baik.
Keterbatasan bahan ajar juga menjadi tantangan. Tanpa buku teks Braille khusus, Tâm beradaptasi dengan berbagai cara: merekam kuliah untuk didengarkan kembali, memindai buku teks, mengubahnya menjadi teks, lalu menggunakan perangkat lunak bagi tunanetra untuk mendengarkan dan menghafal materi. Ketekunan itu, menurut kisahnya, membantunya melewati hambatan yang kerap dianggap sulit ditembus oleh mahasiswa tunanetra.
Di pusat pendidikan tersebut, hubungan Tâm dengan Thanh juga berubah seiring waktu. Saat Tâm pertama kali datang sebagai murid, Thanh merupakan salah satu pembimbingnya. Kini, keduanya bekerja di tempat yang sama, dengan Tâm menjadi bagian dari tenaga pengajar.
Kembali sebagai guru, Tâm menyebut dirinya merasa seperti pulang ke rumah. Ia mengaku gembira ketika diterima bekerja di pusat itu. Pengalaman sebagai mantan siswa membuatnya memahami tantangan yang dihadapi murid-murid tunanetra, sehingga ia berupaya memberi perhatian pada setiap perkembangan kecil yang mereka capai.
Dalam mengajar ilmu komputer, Tâm menekankan pentingnya teknologi bagi siswa tunanetra untuk mengakses materi pelajaran. Ia menyesuaikan penjelasan dengan kemampuan masing-masing siswa agar mereka dapat memahami dan menggunakan komputer dengan baik. Di kelas, ia membimbing tangan murid di atas keyboard sambil menerangkan fungsi tombol-tombol, serta mengarahkan mereka mendengarkan audio dari perangkat lunak untuk memastikan langkah yang dilakukan sudah benar.
Selain komputer, musik menjadi bagian penting dalam pengajaran Tâm. Ia dapat memainkan berbagai alat musik, seperti zither, lute, gitar, dan organ. Pelajaran musik di pusat pun diwarnai latihan dan nyanyian. Bagi siswa yang memiliki bakat, ia meluangkan waktu untuk membimbing, mengumpulkan mereka berlatih, dan mempersiapkan penampilan.
Tâm juga menggubah sejumlah lagu dengan tema keyakinan, ketekunan, dan kecintaan pada hidup. Melalui musik dan kisah hidupnya, ia berupaya menumbuhkan harapan pada murid-murid tunanetra di pusat tersebut, dengan pesan bahwa keterbatasan penglihatan tidak menutup kemungkinan untuk membangun masa depan melalui pengetahuan dan kemauan yang kuat.
Moc Chau