Seorang musisi duduk di panggung yang sejajar dengan penonton. Di depannya hanya sebuah keyboard—tanpa laptop, tanpa midi controller, tanpa drum machine mahal yang kerap diasosiasikan dengan musik elektronik. Namun saat ritme mulai dimainkan, bass menghantam speaker dan orang-orang di depan panggung bergerak. Ruangan malam itu pun seketika “pecah”.
Pertunjukan Alun Buutuni Sound System di Sulawesi Tenggara mungkin tampak sederhana bagi sebagian orang, bahkan kerap dianggap sebagai versi “murah” dari musik elektronik modern. Tapi anggapan itu mengabaikan satu kemungkinan penting: jalur musik elektronik di Indonesia justru tumbuh dari perangkat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari—keyboard arranger, speaker rakitan, dan ekosistem hiburan kampung.
Dalam sejarah musik populer, inovasi sering lahir dari teknologi yang semula dipandang “murahan” atau gagal secara komersial. Roland TR-808, yang kini menjadi legenda, pernah dianggap tak laku. Begitu pula Roland TB-303 yang kemudian menjadi fondasi acid-house, subgenre dari house dansa elektronik. Saat alat-alat itu ditinggalkan pasar, musisi muda di Chicago dan Detroit memakainya untuk merumuskan bahasa musik baru yang kemudian dikenal sebagai techno dan house.
Pelajaran dari sejarah itu menunjukkan bahwa terobosan musikal tidak selalu datang dari perangkat paling canggih, melainkan dari cara komunitas memanfaatkan teknologi yang tersedia. Dalam konteks Indonesia, pola serupa tampak pada skena jedag-jedug atau funkot (funky kota). Banyak musisi menjadikan keyboard arranger sebagai pusat pertunjukan: dari satu instrumen, mereka membentuk pola ritme, bass, harmoni, hingga efek transisi secara langsung.
Dalam skena ini, keyboard bukan sekadar pengganti sementara sebelum beralih ke perangkat yang dianggap “lebih profesional”. Justru sebaliknya, keyboard menjadi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan sosial dan ekonomi komunitasnya: portabel, relatif murah, mudah diperbaiki, dan mampu menghasilkan energi musikal yang dibutuhkan pesta.
Jejaknya dapat dibaca sebagai kelanjutan dari tradisi organ tunggal. Penelitian tentang organ tunggal di Sumatra Barat menunjukkan format tersebut populer karena mampu memenuhi kebutuhan hiburan secara praktis dan fleksibel. Dengan keyboard dan synthesizer, seorang musisi bisa menghadirkan fungsi yang sebelumnya membutuhkan banyak pemain—sebuah “traveling orchestra”.
Jedag-jedug hari ini memperlihatkan logika yang mirip, tetapi dengan pergeseran karakter bunyi. Jika organ tunggal lekat dengan lagu-lagu pesta dan dangdut populer, jedag-jedug bergerak ke wilayah sonik yang lebih keras, lebih cepat, dan lebih berorientasi pada energi ritmis.
Kritik terhadap jedag-jedug sering bertumpu pada anggapan bahwa repetisi ritme menandakan kesederhanaan musikal. Namun dalam kajian musik elektronik, repetisi justru dapat dipahami sebagai ruang pengalaman: pendengar menunggu perubahan kecil, merasakan penumpukan energi, dan mengikuti pola yang terus berulang. Daya tariknya bukan pada kompleksitas harmoni, melainkan pada kemampuan mengubah pengulangan menjadi tenaga tubuh—semakin lama pola diulang, semakin besar peluang tubuh menyelaraskan diri dengan ritme.
Di titik ini, jedag-jedug memiliki kedekatan tertentu dengan sejarah rave, yakni pesta yang dibangun oleh tekanan bunyi, ritme berulang, dan pengalaman tubuh kolektif. Keduanya sama-sama menciptakan ruang kebersamaan melalui suara.
Bunyi, dalam banyak masyarakat, tidak selalu dipandang sebagai objek estetis yang berdiri sendiri. Dalam praktik bunyi ritual, misalnya, suara dapat menjadi medium yang menghubungkan orang-orang, membangun suasana bersama, dan memberi bentuk pada pengalaman kolektif. Meski jedag-jedug berada pada dunia yang berbeda—bukan ritual kematian, bukan pula sastra lisan—ada benang merah yang tetap terlihat: bunyi berfungsi sebagai alasan orang untuk berkumpul.
Di panggung kecil, hajatan kampung, karnaval jalanan, atau klub lokal, jedag-jedug membentuk ruang sosial tempat orang bertemu. Mereka menari, dan merasakan tubuh sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa jedag-jedug tidak sesederhana “meniru Barat”. Teknologi global diterjemahkan ulang sesuai kebutuhan lokal. Keyboard arranger buatan perusahaan multinasional berubah fungsi ketika masuk ke pesta kampung. Speaker rakitan memperoleh makna baru saat menjadi pusat karnaval desa, seperti sound horeg di Malang, Jawa Timur. Video TikTok kemudian membuat pertunjukan lokal melintas batas daerah dan menjadi fenomena yang lebih luas.
Alih-alih dibaca sebagai tiruan dari musik elektronik global, jedag-jedug dapat dipahami sebagai bentuk modernitas musik lokal. Teknologi yang sama bisa melahirkan praktik budaya yang berbeda ketika bertemu kondisi sosial, ekonomi, dan sejarah yang berbeda pula. Karena itu, jedag-jedug lebih tepat dilihat sebagai hasil kreativitas lokal daripada versi “kurang sempurna” dari techno atau EDM.
Pada akhirnya, jedag-jedug memperlihatkan modernitas dari bawah: masyarakat tidak sekadar memakai teknologi, tetapi mengubah fungsi dan maknanya untuk tujuan yang mungkin tak pernah dibayangkan pembuatnya. Dari Sulawesi hingga Jawa Timur, dari panggung hajatan hingga video pendek di media sosial, muncul jalur elektronik yang tidak bergantung pada klub metropolitan atau perangkat hi-tech.
Yang membuat ruangan “pecah” bukan kerumitan setup atau harga alat, melainkan kemampuan komunitas mengolah teknologi yang tersedia menjadi mesin kebersamaan—membangun hubungan sosial melalui bunyi, ritme, dan pengalaman bergerak bersama.