Festival musik Coachella disebut memberi dampak ekonomi signifikan bagi California, Amerika Serikat. Berdasarkan keterangan di laman resmi pemerintah setempat, Coachella bersama festival Stagecoach secara kumulatif menyumbangkan lebih dari US$700 juta atau setara Rp11,9 triliun setiap tahunnya bagi pendapatan daerah.
Gubernur California Gavin Newsom menilai kontribusi tersebut menunjukkan peran ekonomi kreatif sebagai penggerak utama perekonomian wilayah. Menurutnya, Coachella dan Stagecoach tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga mendukung pelaku usaha kecil dan memperkuat posisi California sebagai pusat hiburan dunia.
“Perhelatan seperti Coachella dan Stagecoach bukan sekadar ajang unjuk bakat, melainkan pilar yang menghidupkan ekonomi lokal, mendukung pelaku usaha kecil, serta mempertegas status California sebagai pusat hiburan dunia,” ujar Newsom dalam keterangan resminya, dikutip Selasa, 14 April 2026.
Dari sisi pariwisata, Coachella pada 2025 tercatat menyambut hampir 250.000 pengunjung selama dua akhir pekan berturut-turut. Arus wisatawan tersebut dilaporkan mendorong okupansi hotel, menggerakkan sektor jasa lokal, dan memperkuat identitas California sebagai destinasi seni dan budaya.
Selain itu, Coachella dan Stagecoach juga disebut menopang tenaga kerja regional dengan menyediakan lebih dari 10.000 lapangan kerja temporer setiap tahun. Pekerjaan itu tersebar di sejumlah bidang, mulai dari produksi acara dan logistik hingga perhotelan serta layanan lokal lainnya.
Coachella juga mencatat nilai dampak media atau Media Impact Value (MIV) pada 2025 sebesar sekitar Rp15,5 triliun (US$908 juta). Angka tersebut disebut menegaskan visibilitas global festival dalam membentuk tren serta memperluas pengaruh ekonomi kreatif California di tingkat internasional.
Sementara itu, Coachella 2026 dijadwalkan kembali digelar untuk pekan kedua pada 17–19 April waktu setempat. Festival tahun ini menampilkan sejumlah musisi sebagai headliner, di antaranya Sabrina Carpenter, Justin Bieber, dan Karol G.