Fajar, murid kelas 5 SD, membuka kotak makan di sekolah dengan semangat yang perlahan memudar. Di dalamnya hanya ada secentong nasi putih, sepotong tahu goreng seukuran kartu remi, serta kuah bening yang ia nilai lebih mirip air sisa cucian piring. Padahal, menurut informasi yang disampaikan guru dan poster berwarna yang ditempel di dinding kelas, menu hari itu dijadwalkan “Ayam Bakar Madu”.
Teman sebangkunya, Putri, menanggapi dengan candaan. “Tumben, ayamnya diet,” ujarnya sambil menusuk tahu di kotaknya. Di meja lain, Fajar melihat dua kotak makan yang tampak lebih lengkap: nasi kuning, telur rebus utuh, dan suwiran ayam. Namun sebagian besar kotak lainnya seragam berisi nasi, tahu, dan kuah bening. Fajar teringat, pada pekan sebelumnya porsi ayam masih ada, meski kecil. Kini, ia merasa menu itu menghilang.
Di luar pagar sekolah, seorang pria berkacamata hitam datang dengan motor listrik United E-Motor T1800. Ia adalah Pak Harno, Kepala SPPG Rinjani Zein, yang mengelola dapur MBG di Lombok Timur. Motor listrik itu disebut baru diterimanya dari pusat untuk operasional, meski jarak dapur ke sekolah hanya sekitar 300 meter. Pak Harno juga terlihat memantau percakapan di grup WhatsApp bertajuk “Yayasan Mitra BGN”.
Dalam percakapan grup tersebut, seorang anggota bernama Ibu Sri—pengelola SPPG di Sulawesi Barat—mengirim pesan suara yang menyebutkan kenaikan laporan harga ayam menjadi Rp55 ribu per kilogram, sementara harga pasar disebut Rp50 ribu. Ia menyebut selisih itu dapat menghasilkan tambahan Rp500 ribu per hari, yang menurut pengakuannya digunakan untuk cicilan kendaraan.
Pesan lain datang dari Pak Arief, yang disebut sebagai pengurus yayasan berafiliasi partai di Sukabumi. Ia menyampaikan strategi pemotongan porsi: dari standar Rp10 ribu menjadi Rp8 ribu. Dengan perhitungan 2.000 porsi, ia menyebut sisa Rp2 ribu per porsi dapat menghasilkan Rp4 juta per hari dan sekitar Rp80 juta per bulan, yang ia kaitkan sebagai tambahan modal untuk maju kembali dalam pemilihan tahun berikutnya.
Pak Harno, dalam cerita ini, digambarkan telah menghitung potensi dana “tak tercatat” dari praktik serupa. Dengan 2.000 porsi, markup sayur Rp2 ribu per kilogram, serta “kreativitas” dalam timbangan, ia memperkirakan dapurnya bisa menghasilkan sekitar Rp60 juta per bulan. Dana itu disebut mengalir sebagian ke yayasan dan sebagian ke kantong pribadi.
Selain urusan menu makan, grup juga menyinggung tawaran kerja sama pengadaan 17.000 pasang kaos kaki untuk peserta SPPI, dengan harga Rp100.000 per pasang. Dalam percakapan itu, disebutkan harga pasar hanya sekitar Rp15 ribu per pasang, namun Pak Harno tetap ikut ambil bagian karena ada fee. Dana pengadaan disebut berasal dari BGN, meski pengadaan kaos kaki dinilai tidak berkaitan dengan gizi anak.
Di bagian lain percakapan grup, disebutkan pernyataan Pak Dadan, Kepala BGN, dalam wawancara televisi yang videonya dibagikan oleh sekretaris. Ia menyatakan SPPG dibebaskan berbelanja langsung ke pasar dan tidak memiliki kontrak dengan produsen. Pernyataan itu disambut antusias dalam grup, dengan tafsir bahwa kebebasan belanja memberi ruang mengatur harga.
Sementara itu, Fajar tidak mengetahui dinamika percakapan tersebut. Yang ia rasakan, rasa lapar masih tersisa dan pelajaran Matematika sudah menunggu. Dalam perjalanan menuju kelas, ia berpapasan dengan Pak Harno yang sedang mengisi daya motor listriknya di dekat kantin menggunakan colokan listrik sekolah.
Fajar lalu bertanya polos, “Pak, kenapa ayamnya makin kecil?” Pak Harno tampak terkejut, lalu menjawab bahwa perhitungan gizi sudah sesuai dan anak-anak “tidak boleh kelebihan protein”. Fajar mengernyit, mengingat pelajaran IPA yang menyebut protein penting untuk pertumbuhan, namun ia memilih diam.
Malam harinya di rumah, Fajar menceritakan pengalaman itu kepada ayahnya. Ia menyampaikan bahwa menurut Pak Harno, makanan di sekolah gizinya sudah pas, tetapi ia masih merasa lapar. Ia juga menyebut beberapa temannya hanya mendapat tahu, meski menu yang dijanjikan adalah ayam.