BERITA TERKINI
Catatan tentang Profesi Wartawan: Literasi, Kebiasaan Menulis, dan Jenjang Karier

Catatan tentang Profesi Wartawan: Literasi, Kebiasaan Menulis, dan Jenjang Karier

Pengalaman menempuh studi S-1 dengan peminatan jurnalistik membawa penulis berkenalan dengan sejumlah wartawan di Yogyakarta. Di antaranya almarhum Arwan Tuti Artha dari harian Kedaulatan Rakyat, Suroso dari harian Bernas, serta Fernan dari harian Republika. Dari interaksi tersebut, penulis mencatat sejumlah hal yang dianggap melekat pada profesi wartawan.

Pertama, penulis menilai wartawan umumnya berlatar pendidikan sarjana (S-1). Salah satu contoh yang disebut ialah Fernan, lulusan S-1 Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM). Menurut penulis, latar pendidikan S-1 kerap diasosiasikan dengan kemampuan membaca, menulis, dan bernalar yang terasah, antara lain melalui tugas akhir skripsi dan berbagai tugas perkuliahan.

Di jenjang S-1, mahasiswa didorong untuk proaktif mengembangkan kemampuan membaca, menulis, dan bernalar. Penulis menggambarkan aktivitas perkuliahan yang menuntut mahasiswa membaca beragam bahan—mulai dari buku, artikel jurnal, buletin, majalah, hingga skripsi di perpustakaan—serta menulis resensi, opini, esai, berita, dan melakukan diskusi dengan kolega.

Kedua, wartawan disebut memiliki kebiasaan membaca, menulis, dan berdiskusi. Penulis memaparkan bahwa membaca menjadi cara wartawan menyerap informasi, menulis menjadi sarana menuangkan data dan fakta, sementara berdiskusi menjadi ruang berbagi informasi dengan kolega. Kebiasaan tersebut dinilai membantu wartawan menulis berita dengan baik.

Penulis juga mencontohkan karya yang lahir dari keterampilan tersebut, yakni Wisnu Nugroho, wartawan harian Kompas yang pernah bertugas meliput di Istana Presiden, dan menerbitkan tetralogi buku Pak Beye dan Istananya. Buku itu disebut memotret hal-hal unik pada diri mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), terutama pada periode pertama kepemimpinannya (2004–2009).

Ketiga, penulis menilai sebagian besar wartawan juga menekuni bidang kepenulisan. Hal ini dikaitkan dengan budaya literasi yang meniscayakan kegiatan membaca dan menulis. Sejumlah nama wartawan sekaligus penulis yang disebut antara lain Putu Wijaya, Seno Gumira Ajidarma, Taufik Ikram Jamil, Goenawan Mohamad, Fadmi Sustiwi, Jayadi Kastari, dan Triyanto Triwikromo.

Penulis kemudian menguraikan contoh per nama: Putu Wijaya disebut pernah menjadi wartawan Tempo sekaligus penulis naskah drama dan cerita pendek. Seno Gumira Ajidarma disebut pernah menjadi wartawan Jakarta Jakarta sekaligus menulis cerita pendek, puisi, novel, kolom, dan fotografi. Taufik Ikram Jamil disebut pernah menjadi wartawan harian Kompas sekaligus menulis cerita pendek, puisi, dan novel. Goenawan Mohamad disebut pernah menjadi wartawan Tempo sekaligus menulis puisi dan kolom Catatan Pinggir. Fadmi Sustiwi dan Jayadi Kastari disebut masih menjadi wartawan harian Kedaulatan Rakyat sekaligus menulis opini dan cerita pendek. Adapun Triyanto Triwikromo disebut masih menjadi wartawan harian Suara Merdeka sekaligus menulis cerita pendek, puisi, novel, dan esai.

Keempat, profesi wartawan digambarkan sebagai karier yang berjenjang. Penulis menyebut bahwa pada tahap awal rekrutmen, wartawan umumnya memulai sebagai reporter. Setelah berpengalaman, peran dapat beralih menjadi redaktur atau redaksi desk/bidang, hingga kemudian menjadi redaksi senior atau redaksi utama. Sebagai gambaran, penulis menyinggung pembagian liputan di majalah Tempo yang mencakup isu hukum dan kriminal, perjalanan dan gaya hidup, serta ekonomi dan finansial.

Di akhir tulisan, penulis menyimpulkan bahwa wartawan umumnya lulusan S-1, terbiasa membaca, menulis, dan berdiskusi, serta sebagian juga menjadi penulis. Profesi ini juga dipandang memiliki jenjang karier dari reporter hingga redaktur senior. Penulis menutup dengan mengutip pernyataan politisi Amerika Serikat Adlai Stevenson: wartawan tidak hidup hanya dari kata-kata, meskipun terkadang mereka harus memakannya.