BERITA TERKINI
Budhy Munawar Rachman: Kerusakan Lingkungan Tak Bisa Dibebankan pada Monoteisme Semata

Budhy Munawar Rachman: Kerusakan Lingkungan Tak Bisa Dibebankan pada Monoteisme Semata

Budhy Munawar Rachman menanggapi esai Nasaruddin Umar yang membahas hubungan agama-agama Abrahamik—Yahudi, Kristen, dan Islam—dengan kerusakan lingkungan. Esai Nasaruddin Umar tersebut merujuk pada pandangan Karen Armstrong dalam buku Sacred Nature, Restoring our Ancient Bond with The Natural World, yang mengkritik monoteisme dalam tradisi Abrahamik karena dinilai ikut mendorong percepatan kerusakan alam.

Dalam esainya, Nasaruddin Umar menyebut pemahaman monoteistik pada agama-agama Abrahamik kerap memisahkan Tuhan, manusia, dan alam. Pemisahan itu, menurutnya, memunculkan cara pandang yang membuka ruang eksploitasi alam tanpa batas. Ia membandingkannya dengan pandangan tradisional atau agama-agama asli yang memandang alam sebagai sesuatu yang sakral dan memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan manusia maupun spiritualitas.

Budhy menilai tulisan tersebut menarik untuk direspons secara positif, namun ia mengajukan sejumlah catatan kritis. Salah satunya terkait penggambaran monoteisme sebagai penyebab kerusakan alam. Menurut Budhy, mengaitkan kerusakan lingkungan secara langsung dengan teologi agama-agama Abrahamik berpotensi menyederhanakan persoalan, karena kerusakan lingkungan juga dipengaruhi berbagai faktor sosial, ekonomi, dan politik.

Ia mencontohkan, dalam Islam terdapat konsep khalifah yang menekankan tanggung jawab manusia memelihara bumi. Dalam tradisi Kristen, terdapat ajaran mengenai tanggung jawab atas ciptaan Tuhan. Sementara dalam Yahudi, konsep Tikkun Olam menekankan perbaikan dunia. Karena itu, Budhy menilai klaim yang menempatkan teologi agama-agama tersebut sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan perlu ditelaah lebih dalam, meski ia mengakui adanya kemungkinan interpretasi yang keliru atau sempit dalam praktik keagamaan.

Budhy juga menyoroti kritik Nasaruddin Umar terhadap antroposentrisme, yakni pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat dan menjadikan alam semata objek pemanfaatan. Ia menilai kritik itu relevan karena banyak kerusakan lingkungan memang berangkat dari cara pandang yang mengunggulkan manusia di atas alam dan mengabaikan makhluk lain. Namun, ia menekankan bahwa tidak semua penafsiran dalam agama-agama Abrahamik mengarah pada antroposentrisme ekstrem. Menurutnya, terdapat pula penafsiran yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam yang perlu hidup selaras dengan lingkungan.

Catatan lain yang diangkat Budhy adalah pentingnya pendekatan hermeneutik atau penafsiran terhadap teks suci. Ia sejalan dengan gagasan Nasaruddin Umar bahwa banyak ajaran agama sebenarnya mendukung konservasi lingkungan, tetapi kerap tidak ditekankan dalam praktik keagamaan sehari-hari. Budhy mencontohkan ayat-ayat Alquran yang berbicara tentang keseimbangan dan larangan merusak bumi, namun sering kali tidak dipahami secara kontekstual dalam kaitannya dengan persoalan lingkungan kontemporer.

Selain itu, Budhy menanggapi rujukan Nasaruddin Umar terhadap kritik ilmu pengetahuan modern yang berkembang pesat sejak Renaisans dan dinilai berkontribusi pada eksploitasi alam. Ia menganggap kritik tersebut relevan, mengingat paradigma ilmu pengetahuan modern kerap bersifat mekanistik dan reduksionistik sehingga cenderung mengabaikan nilai spiritual dan etis dalam relasi manusia dengan alam. Meski demikian, Budhy mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan modern juga memiliki potensi besar membantu mengatasi krisis lingkungan melalui teknologi hijau, energi terbarukan, dan inovasi ilmiah lain, selama penerapannya dipandu nilai etis dan keberlanjutan.

Budhy kemudian menekankan perlunya menggali potensi agama sebagai kekuatan positif untuk pelestarian lingkungan. Ia menilai Nasaruddin Umar, sebagai pemuka agama, memiliki posisi strategis untuk menggalang peran komunitas agama dalam konservasi. Budhy mendorong agar refleksi teologis tidak berhenti pada kritik, melainkan disertai usulan langkah konkret, seperti pendidikan agama yang menekankan kepedulian lingkungan, kampanye hijau yang dipimpin tokoh agama, serta kerja sama lintas agama dalam program konservasi.

Dalam kesimpulannya, Budhy menilai esai Nasaruddin Umar menghadirkan refleksi penting mengenai relasi agama-agama Abrahamik dan kerusakan lingkungan. Namun, ia mengingatkan perlunya kehati-hatian agar hubungan teologi dan kerusakan alam tidak disederhanakan. Menurutnya, kritik terhadap antroposentrisme serta dorongan penafsiran teks suci yang lebih mendalam dan kontekstual dapat menjadi langkah awal. Yang lebih mendesak, ia menambahkan, adalah bagaimana komunitas agama menerjemahkan refleksi tersebut menjadi aksi nyata untuk pemeliharaan dan pelestarian lingkungan, sehingga agama tidak hanya dipandang sebagai bagian dari masalah, tetapi juga bagian dari solusi.