Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Dharma Persatuan BRIN menggelar pagelaran busana bertajuk “Naturally Cultural: When, Culture Meet Nature, Advanced by Research and Innovation” dalam rangka Plaza Indonesia Fashion Week (PIFW) pada 3 Oktober 2025. Ajang ini juga bekerja sama dengan Kebun Raya Bogor dan disebut sebagai pertemuan antara ilmu pengetahuan, seni, laboratorium, dan alam.
Presiden ke-5 Republik Indonesia yang juga Ketua Dewan Pengarah BRIN, Megawati Soekarnoputri, hadir membuka acara. Dalam sambutannya, Megawati menekankan pentingnya kemajuan riset dan teknologi yang berjalan seiring dengan pelestarian alam serta promosi budaya.
“Kemajuan riset dan teknologi perlu berjalan beriringan dengan pelestarian alam serta promosi budaya. Terselenggaranya peragaan busana Batik ini adalah testimoni kemitraan BRIN dengan pelaku industri dalam rangka melestarikan alam Indonesia serta mempromosikan warisan budaya yang ikonik,” kata Megawati.
Dalam door stop interview, Megawati juga menyoroti peran generasi muda sebagai penggerak industri berbasis budaya dan ekonomi kreatif. Ia mendorong penguatan riset dan inovasi agar lahir produk-produk yang unik, sembari mengingatkan posisi Indonesia sebagai negara mega biodiversitas menurut Konvensi Keanekaragaman Hayati.
Megawati turut menyebut pengakuan UNESCO pada 2017 yang menempatkan Indonesia sebagai Super Power bidang budaya. Menurutnya, kekuatan biodiversitas dan budaya merupakan modal bangsa yang perlu saling melengkapi, dengan BRIN memiliki mandat membangun ekosistem riset dan inovasi yang melestarikan alam sekaligus memajukan budaya.
Kepada perancang busana dan pelaku industri kreatif, Megawati berpesan agar tetap memegang pakem warisan budaya Indonesia dalam pengembangan busana modern. Ia juga mengingatkan pentingnya perlindungan karya melalui Hukum Kekayaan Intelektual, termasuk Hak Cipta atau Indikasi Geografis.
Sementara itu, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko, melalui sambutan yang dibacakan Sekretaris Utama BRIN Nur Trie Aries Suestiningtyas, menekankan pentingnya penguatan kemitraan publik-privat untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi. Laksana menyampaikan koleksi yang ditampilkan menitikberatkan perpaduan kebhinekaan budaya Indonesia dengan ragam flora yang ditemukan di Kebun Raya Bogor yang luasnya lebih dari 87 hektare dan menjadi rumah bagi ribuan koleksi tanaman, termasuk yang endemik dari berbagai wilayah Indonesia serta tanaman dari belahan dunia lain.
Pagelaran ini juga mengangkat kekayaan flora yang pernah dimiliki dan dirawat jaringan kebun raya, termasuk bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum) yang terakhir mekar pada Februari 2025 di Kebun Raya Cibodas, pada 2024 di Kebun Raya Purwodadi, dan pada 2020 di Kebun Raya Bogor. Bunga tersebut disebut hanya mekar selama sekitar satu pekan dan ketika tumbuh sempurna dapat mencapai tinggi 5 meter dengan diameter 1,5 meter.
Selain itu, acara turut menyinggung Rafflesia arnoldii yang disebut sebagai salah satu ikon flora Kebun Raya Bogor dan dijuluki bunga terbesar di dunia dengan diameter lebih dari satu meter. Keindahan anggrek dan teratai yang tumbuh subur di kebun raya juga ditampilkan sebagai bagian dari representasi kemajemukan Indonesia.
Dari sisi desain, motif batik yang ditampilkan berasal dari karya lukisan anak-anak difabel binaan Yayasan Carys Cares. Karya tersebut kemudian diaplikasikan menjadi busana batik kontemporer serta berbagai lifestyle appliances oleh Alleira Batik. Koleksi hadir dalam pilihan busana dan aksesori untuk perempuan, laki-laki, dan anak-anak, dengan paduan warna lembut dan berani seperti merah, lembayung, dan hijau toska.
Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) BRIN, Dany Handoko, menyampaikan DWP BRIN aktif mendukung kegiatan sosial, termasuk mendorong agar anak-anak difabel tetap dapat terlibat dalam proses produksi. Disebutkan pula bahwa setiap pembelian koleksi ini menjadi bagian dari dukungan bagi program pemberdayaan anak-anak difabel di Indonesia.
Kolaborasi yang melibatkan Carys Cares, Alleira Batik, DWP BRIN, Direktorat Penguatan dan Kemitraan Infrastruktur Riset Inovasi BRIN, serta Kebun Raya Bogor membawa pesan bahwa kebhinekaan budaya, keindahan alam, dan kemajuan inovasi saling terhubung. Dalam konteks Indonesia Emas 2045, ketiga elemen tersebut digambarkan tidak berjalan sendiri-sendiri melainkan saling mendukung.
Anggota DPR RI Komisi V, Marlyn Maisarah Sugiono, menilai batik bermotif flora kebun raya sebagai contoh kreativitas generasi muda. Ia juga mengimbau agar diplomasi berbasis budaya dan riset terus digalakkan.
Rangkaian PIFW 2025 diawali penampilan model profesional serta anak-anak berkebutuhan khusus. Sejumlah tokoh perempuan ikut tampil sebagai muse, di antaranya Dany Handoko, Marlyn Maisarah Sugiono, Sari Arrmanatha Nasir dan Sharika, Wakil Direktur Utama BNI Alexandra Askandar, Ketua Umum APINDO Shinta Kamdani Widjaja, serta para pengurus DWP BRIN.
Acara juga dihadiri pejabat BRIN dan Kementerian Luar Negeri RI, serta duta besar dan perwakilan dari Kedutaan Besar Bulgaria, Iran, Irak, Tiongkok, Thailand, Tunisia, Kuba, Mesir, Rusia, Serbia, Siprus, dan Swedia, bersama pelaku industri fesyen.
Selain peragaan busana, paduan suara Armonia Choir yang dipimpin Giok Hartono dengan dirigen Baruno turut tampil membawakan lagu “Rungkad” dan “Melodi Cinta”. Para anggotanya disebut terdiri atas tokoh perempuan Indonesia yang mengenakan kebaya dan batik.
Direktur Penguatan dan Kemitraan Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN, Joannes Ekaprasetya Tandjung, menyampaikan kemitraan infrastruktur—termasuk Kebun Raya—ditargetkan bersifat win-win bagi BRIN dan mitra privat serta berkelanjutan. Ia juga menyebut pagelaran ini menjadi contoh kerja sama BRIN dengan sektor publik untuk pelestarian hayati dan promosi warisan budaya, sekaligus berlangsung pada Oktober ketika masyarakat Indonesia memperingati Hari Batik Nasional.

