BERITA TERKINI
Beeswax Rilis Album Self-Titled pada 10 April 2026 untuk Menandai 12 Tahun Perjalanan

Beeswax Rilis Album Self-Titled pada 10 April 2026 untuk Menandai 12 Tahun Perjalanan

Trio emo asal Malang, Beeswax, merilis album penuh bertajuk Beeswax pada 10 April 2026. Album self-titled ini dihadirkan sebagai penanda 12 tahun perjalanan mereka di industri musik, sekaligus menjadi refleksi evolusi musikal dan personal para personelnya.

Bagas Yudhiswa mengatakan album ini dibuat untuk mengingat kembali alasan dan proses lahirnya Beeswax. “Album Beeswax ini kami hadirkan untuk mengingatkan kembali pada kami terutama kenapa dan bagaimana Beeswax lahir, di mana nggak terasa kami sudah berjalan 12 tahun,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).

Album Beeswax memuat 16 lagu yang merupakan aransemen ulang dari karya-karya awal mereka, termasuk materi dari EP First Step dan LP Growing Up Late. Lagu-lagu tersebut ditulis ulang dengan pendekatan yang lebih matang, seiring bertambahnya pengalaman dan cara pandang para personel.

“Pendekatan di album ini lebih ke bagaimana kami memahami kembali karya lama dengan perspektif yang lebih dewasa,” kata Bagas.

Rangkaian perilisan album ini diawali lewat single “THE BRIDGE OF THE EMPTYNESS” pada Februari 2026, dilanjutkan “TAKE ME HOME” pada Maret 2026. Bersamaan dengan peluncuran album, Beeswax juga merilis lagu “THE MOST PATHETIC ONE ON PLANET”.

Menurut Bagas, lagu tersebut menggambarkan dilema ketika melihat orang terdekat menghadapi kesulitan, namun tidak dapat berbuat banyak. “Lagu ini mencoba menggambarkan dilema saat melihat orang terdekat mengalami kesulitan, tanpa bisa berbuat banyak,” jelasnya.

Dalam lagu itu, Beeswax berkolaborasi dengan Alditsa Decca Nugraha atau Dochi Sadega dari Pee Wee Gaskins. Bagas menyebut kolaborasi tersebut lahir dari kedekatan emosional serta kesamaan selera musik emo. “Dochi punya kedekatan emosional dengan genre ini, jadi kolaborasinya terasa sangat natural,” ujar Bagas.

Proses produksi album berlangsung selama tiga bulan dan dikerjakan secara mandiri oleh seluruh personel. Rekaman dilakukan di beberapa studio di Surabaya dan Malang, sementara aspek produksi disebut ditangani internal band.

R. Yanuar Ade Laksono menyebut ada tantangan jarak dan waktu dalam pengerjaan album. “Kami menghabiskan total waktu selama 3 bulan untuk produksi album ini. Ada kendala jarak dan waktu, tapi kami jalani dengan prinsip alon-alon asal kelakon,” tuturnya.

Setelah perilisan album, Beeswax mengaku belum menyiapkan rencana besar. Mereka berharap tetap dapat berkarya dengan dukungan pendengar. “Untuk rencana setelah album ini, kami mohon kepada teman-teman fans, doain aja. Tour boleh, single boleh, pokok doa-nya aja,” kata Yanuar.

Beeswax dikenal sebagai salah satu pionir skena midwest emo di Jawa Timur dan telah aktif sejak 2014. Album ini diposisikan sebagai jembatan antara karya lama dan fase baru mereka, sekaligus menegaskan eksistensi Beeswax di kancah musik independen Indonesia.