BaliSpirit Festival, festival yoga, wellness, dan musik sadar, akan digelar pada 15–19 April 2026 di Ubud, Bali. Memasuki edisi ke-17, acara ini berlangsung di Puri Padi Hotel dan The Yoga Barn dengan tema “Welcome Home”.
Festival ini disebut sebagai perayaan kearifan lokal Bali yang berakar pada filosofi Tri Hita Karana, yakni hidup selaras dengan Tuhan, manusia, dan alam. Dengan mengintegrasikan yoga, tari, musik, serta penyembuhan (healing) tradisional, BaliSpirit Festival diposisikan sebagai platform global untuk wellness tourism yang sekaligus memperkuat budaya lokal serta mendukung kebangkitan ekonomi dan sosial pascapandemi.
Co-founder BaliSpirit Festival, I Made Gunarta, mengatakan tema “Welcome Home” mengajak peserta dari berbagai belahan dunia untuk kembali terhubung dengan diri sendiri, sesama, dan esensi Bali. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di The Ambengan Tenten (TAT), Sabtu, 4 April 2026.
Selama lebih dari satu dekade, BaliSpirit Festival menjadi ruang pertemuan praktisi, seniman, fasilitator, dan individu yang mencari pertumbuhan diri. Tahun ini, rangkaian program kembali disiapkan dari workshop siang hingga konser malam, yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman menyeluruh secara fisik, emosional, dan spiritual.
Program siang hari difokuskan pada eksplorasi dan transformasi melalui sesi-sesi seperti yoga dan movement, dance, meditasi, sound healing, breathwork, bodywork, dharma talk, serta workshop pengembangan diri. Sejumlah fasilitator dari berbagai negara dijadwalkan hadir, antara lain Muhammad Nur Jabir (Sufism), Chocolako (Nigeria/USA) untuk Cacao Ceremony & Somatic Feminine Intelligence, Jo Phee (Singapore) untuk Yin Yoga, Alfred Kendric (USA) untuk Body Mobility and Mechanics, Byron de Marse (USA) untuk Empowerment Yoga, serta Hubert Mu (Austria) untuk Hangab Bodywork.
Sementara itu, program malam menghadirkan pertunjukan musik dari musisi lokal dan internasional sebagai ruang perayaan kebersamaan lintas budaya. Sejumlah nama yang dijadwalkan tampil antara lain Abink (Indonesia), Prabumi & Resonance Hati Frequency (Belgium/France), Afrosideral Band (Cuba/Brazil), Rong Zeng Zheng Zheng (China), Ji Nya (France), dan Silicon Babas (UK/Latvia).
Selain rangkaian acara utama, BaliSpirit Festival juga menyoroti komitmen dampak sosial melalui Outreach Program yang berjalan sejak 2010. Program ini disebut telah menggalang lebih dari USD 200.000 untuk mendukung berbagai inisiatif sosial dan lingkungan di Indonesia. Di antaranya adalah Ayo! Kita Bicara HIV & AIDS yang berfokus pada peningkatan kesadaran dan pengurangan stigma, serta disebut telah menjangkau 169 sekolah dan lebih dari 7.500 siswa di berbagai wilayah Indonesia.
Inisiatif lainnya mencakup Bali Conference sebagai platform berbasis komunitas yang mengangkat seni, musik, dan pertukaran budaya, serta Wellness Conference yang merupakan kolaborasi bersama institusi akademik dan pemangku kepentingan untuk mendorong pengembangan wellness tourism secara berkelanjutan. Ada pula Bali ReGreen, program pelestarian lingkungan melalui penanaman bambu, dengan lebih dari 11.000 bibit telah ditanam sejak 2011.
Gunarta menyebut konflik Teluk 2026 (AS-Israel vs Iran) menjadi tantangan bagi penyelenggaraan BaliSpirit Festival 2026, terutama terkait jejaring dan mobilitas. Menurutnya, situasi tersebut dapat memengaruhi perubahan rencana perjalanan sehingga menjadi tantangan untuk tetap datang ke Bali.
Dalam kesempatan yang sama, Founder TAT, IB Gede Puja, menyampaikan bahwa BaliSpirit Festival tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga ruang kolaborasi yang mendorong pertumbuhan pariwisata berkualitas dan memperkuat posisi Bali sebagai pusat wellness dan spiritualitas dunia.
Pada konferensi pers itu, Noviana Kusumawardhani turut membagikan empat elemen astrology yang menekankan pentingnya pemahaman elemen kehidupan. Sementara Quarina memperagakan yoga sederhana di tempat duduk serta peregangan otot pinggang saat berkendara. Keduanya disebut akan menjadi narasumber dalam BaliSpirit Festival 2026.

