BERITA TERKINI
Balai Besar TNBTS Tutup Wisata Bromo 6–12 April untuk Pemulihan Ekosistem

Balai Besar TNBTS Tutup Wisata Bromo 6–12 April untuk Pemulihan Ekosistem

Kawasan wisata Gunung Bromo terpantau lengang pada Senin (6/4) seiring pemberlakuan penutupan sementara Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) selama sepekan setelah libur Lebaran. Kebijakan ini membuat aktivitas wisata yang biasanya ramai tidak terlihat.

Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menjelaskan, penutupan dilakukan sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem secara alami setelah tingginya aktivitas kunjungan wisata. Menurutnya, sebagai kawasan konservasi, TNBTS memerlukan masa jeda agar alam dapat “beristirahat” dari tekanan aktivitas manusia.

“Sebagaimana kawasan taman nasional lainnya, alam juga butuh waktu untuk memulihkan dirinya. Sama seperti manusia yang tidak bisa bekerja terus-menerus tanpa istirahat, alam juga demikian,” ujarnya.

Selama masa penutupan, Balai Besar TNBTS tidak hanya menghentikan aktivitas wisata, tetapi juga melakukan pembersihan kawasan. Langkah ini disebut penting untuk membantu mengembalikan keseimbangan ekosistem di kawasan Bromo. Penutupan dijadwalkan berlangsung selama sepekan, mulai Senin hingga Minggu (6–12/4).

Rudi menyampaikan, sejumlah unsur alam memerlukan waktu untuk pulih, mulai dari vegetasi yang membutuhkan kesempatan tumbuh secara alami, satwa liar yang memerlukan ketenangan dari gangguan manusia, hingga bentang alam seperti lautan pasir yang harus kembali ke kondisi alaminya.

“Bahkan gurun pasir di Bromo, perlu mengembalikan porositasnya. Kalau setiap hari dilalui kendaraan, tidak ada waktu untuk pulih,” katanya.

Ia menilai durasi penutupan selama satu minggu cukup untuk memberi ruang pemulihan, meski lebih singkat dibanding kebijakan pada tahun-tahun sebelumnya. Rudi menyebut, penutupan rutin pernah berlangsung hingga satu bulan, namun tradisi tersebut sempat terhenti saat pandemi Covid-19 karena aktivitas wisata menurun. Dengan kunjungan yang kembali normal, pihaknya ingin menghidupkan kembali pola penutupan berkala.

Terkait potensi kehilangan kunjungan wisatawan selama penutupan, Rudi mengatakan jumlahnya sulit diprediksi karena bersifat fluktuatif. Ia mencontohkan, pada Ramadan jumlah kunjungan berada di kisaran ratusan orang per hari, sementara saat libur Lebaran meningkat hingga ribuan wisatawan.