Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai membawa perubahan dalam industri musik, termasuk cara kerja studio rekaman. Meski demikian, pelaku industri menilai AI belum mampu menggantikan proses kreatif yang menjadi inti produksi musik.
Pemilik Dexter Studios, Heston Prasetyo, mengatakan AI saat ini banyak dimanfaatkan untuk membantu mengomunikasikan ide, terutama dari pihak nonprofesional kepada profesional. “AI membantu mengkomunikasikan ide, terutama dari sisi nonprofesional ke profesional,” ujarnya kepada Bisnis, Sabtu (28/3/2026).
Menurut Heston, penggunaan AI kerap muncul dalam proyek komersial seperti iklan. Di ranah ini, AI dinilai membantu menjembatani gagasan antara klien, agensi, dan komposer. Teknologi AI generatif berbasis prompt memudahkan pihak yang bukan musisi untuk menyampaikan konsep musik yang diinginkan.
Namun, ia menekankan bahwa keluaran AI umumnya baru menjadi pijakan awal. “Hasil dari AI biasanya hanya jadi referensi awal yang kemudian dikembangkan ulang oleh musisi di studio,” jelasnya.
Heston menilai proses kreatif manual tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan. Interaksi antarmusisi di studio—termasuk kolaborasi dan munculnya ide secara spontan—dipandang sebagai faktor penting dalam menghasilkan karya yang autentik.
“Proses itu bukan sekadar output, tetapi juga experience. Banyak ide muncul dari kesalahan atau tabrakan gagasan. Itu yang tidak ada di AI,” tegasnya.
Meski AI unggul dari sisi kecepatan dan produktivitas, Heston berpendapat karya yang dihasilkan manusia tetap memiliki karakter dan “soul” yang lebih kuat. Ia menyebut musik berbasis AI cenderung memiliki pola tertentu yang mudah dikenali, berbeda dengan karya manusia yang lebih variatif.
“Musik dari manusia punya emosi yang tidak bisa sepenuhnya direplikasi oleh mesin,” ujarnya.
Di sisi lain, perkembangan AI juga memunculkan tantangan baru, terutama terkait aspek hukum seperti hak cipta dan royalti. Hingga kini, menurut Heston, regulasi mengenai kepemilikan karya yang dihasilkan AI masih belum jelas.
“Pertanyaannya, musik yang dihasilkan AI itu milik siapa? Apakah yang membuat prompt atau perusahaan pembuat algoritma?” kata Heston.
Dari sudut pandang bisnis, ia melihat studio musik masih memiliki peluang bertahan dengan menonjolkan pengalaman kreatif dan sentuhan manusia sebagai nilai tambah. “Selama experience dalam membuat musik itu masih ada dan menyenangkan, AI akan jadi partner, bukan pengganti,” imbuhnya.
Heston juga mengimbau musisi memanfaatkan AI sebagai alat bantu eksplorasi ide, bukan sebagai ancaman. Ia menekankan kekuatan utama musisi tetap terletak pada karakter dan emosi dalam karya yang dihasilkan. “Fokus saja pada soul-nya daripada pada output,” ujarnya.

