BERITA TERKINI
Acara “BANGKIT” Ajak Peserta Memaknai Burnout Lewat Refleksi dan Aktivitas Kreatif di Jakarta

Acara “BANGKIT” Ajak Peserta Memaknai Burnout Lewat Refleksi dan Aktivitas Kreatif di Jakarta

Jakarta — BANGKIT, sebuah acara reflektif dan interaktif, digelar sebagai karya tugas akhir Wulan Naushaba, mahasiswa Postgraduate Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR, jurusan Business Communication & Management. Kegiatan ini diselenggarakan di bawah bimbingan Mikhael Yulius Cobis, M.Si., M.M., dan terwujud melalui kolaborasi NAMAMU Project dengan biro psikologi Ruang Makna.

NAMAMU Project merupakan inisiatif yang digagas Wulan sebagai media ekspresi untuk berbagi cerita dan emosi melalui pendekatan kreatif. Inisiatif ini disebut menjadi ruang ekspresi dan eksplorasi komunikasi yang empatik, sekaligus membuka kolaborasi lintas bidang. NAMAMU juga dimaknai sebagai simbol penghargaan bagi orang-orang yang pernah hadir dan memberi arti dalam perjalanan hidup.

Sementara itu, Ruang Makna adalah lembaga konsultasi psikologis yang berdiri sejak 2023 dengan visi menyediakan layanan kesehatan mental yang terpercaya dan mudah dijangkau. Mengusung nilai empati, refleksi diri, dan ruang aman, Ruang Makna menyediakan layanan konseling, edukasi, pelatihan, serta kegiatan komunitas yang suportif, dengan tujuan membantu individu mengenali potensi diri dan membangun kesejahteraan psikologis.

Dengan tema “Dari Letih, Jadi Pulih”, acara BANGKIT dilangsungkan pada Minggu, 10 Agustus 2025 di OSH Cafe, Jakarta. Peserta diajak memaknai kelelahan bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai sinyal untuk berhenti sejenak, memahami diri, dan pulih secara perlahan.

Kegiatan dibuka dengan sesi talkshow interaktif bersama Kak Mutiara, seorang psikolog sekaligus profesional di bidang pengembangan sumber daya manusia. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami burnout, pentingnya self-awareness, serta langkah-langkah memulihkan diri secara sehat dan berkelanjutan. Panitia berharap pembahasan tersebut membantu peserta mengenali tanda-tanda kelelahan emosional, mengelola tekanan, dan menemukan kembali motivasi diri.

Setelah talkshow, kegiatan dilanjutkan dengan aktivitas clay painting yang dipandu narasumber. Aktivitas ini dirancang sebagai ruang ekspresi agar peserta dapat menyampaikan rasa, cerita, dan pengalaman melalui warna dan bentuk, sekaligus menjalani proses kreatif yang menenangkan dan bermakna.

Salah satu sesi yang disebut memiliki makna mendalam adalah aktivitas simbolik “Bertumbuh dalam Letih”. Dalam sesi ini, peserta menempelkan “daun” pada sebuah pohon sebagai simbol dari hal-hal yang sedang mereka rasakan atau perjuangkan. Daun-daun tersebut perlahan membentuk pohon yang rindang, sebagai pengingat bahwa dalam kelelahan tetap ada ruang untuk bertumbuh, dan bahwa proses pulih dapat dimulai dari keberanian mengakui letih sebagai bagian dari perjalanan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pulih bukan tujuan, tapi perjalanan. Bukan tentang melupakan letih, tapi tentang belajar berdamai. Lewat BANGKIT, kami ingin menciptakan ruang aman untuk berhenti sejenak, dan kembali terhubung dengan diri,” ujar Wulan.

Mikhael Yulius Cobis menilai kegiatan ini tidak hanya menjadi proyek akhir mahasiswa, tetapi juga sarana edukasi dan dukungan bagi generasi muda yang menghadapi burnout. “Melalui sesi interaktif dan aktivitas kreatif, acara ini mendorong kesadaran diri, pemulihan energi, serta membangun ruang aman bagi peserta untuk berbagi pengalaman dan menemukan solusi positif,” katanya.

Dengan dukungan peserta, Ruang Makna, serta tim relawan, kegiatan berlangsung dalam suasana hangat. Penyelenggara berharap BANGKIT dapat menjadi langkah awal bagi hadirnya ruang-ruang pemulihan yang lebih luas dan menginspirasi kegiatan serupa yang membantu individu lebih dekat dengan dirinya sendiri.

Informasi lebih lanjut mengenai program ini dan kegiatan serupa dapat diakses melalui akun Instagram @ruangmakna.official.