Abigail Limuria dikenal sebagai content creator yang kerap membahas isu sosial dan politik secara lugas. Melalui berbagai inisiatif—mulai dari platform What Is Up, Indonesia?, kelas diskusi, hingga buku yang ia tulis bersama co-author—ia berupaya menghidupkan budaya berpikir kritis di kalangan generasi muda dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian.
Abigail menilai tantangan terbesar saat ini adalah derasnya arus informasi, termasuk maraknya video-video pendek yang dapat memengaruhi daya konsentrasi. Di tengah kondisi tersebut, ia mendorong agar berpikir kritis tidak dipahami sebagai sesuatu yang berat, melainkan relevan dan bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Abigail, media memegang peran sentral dalam membentuk cara pikir masyarakat. Ia menilai apa yang dianggap wajar, menarik, atau justru “cringe” kerap ditentukan oleh apa yang disajikan dan disebarkan media.
“Yang men-setting apa itu keren, apa itu normal, apa itu cringe, itu adalah media. Makanya media itu penting banget untuk kultur,” kata Abigail.
Ia mencontohkan Ideafest sebagai format festival yang dinilainya dapat menumbuhkan budaya diskusi dan pertukaran ide di Indonesia. Melalui ruang-ruang seperti itu, pengunjung didorong untuk mulai berpikir kritis, memunculkan gagasan baru, dan berkolaborasi sehingga membuka peluang kemajuan bersama.
Dalam upayanya membuat berpikir kritis lebih mudah diakses, Abigail berangkat dari keyakinan bahwa pengetahuan tidak seharusnya eksklusif. Ia juga menekankan pentingnya kemampuan menjelaskan hal kompleks secara sederhana sebagai bagian dari pemahaman yang utuh.
“Aku selalu percaya bahwa ketika aku nggak bisa menjelaskan sesuatu dengan simpel, berarti aku belum paham. Dan itu tujuan dari buku ini, supaya semua orang bisa paham, bahkan yang belum pernah belajar logika sebelumnya,” ujarnya.
Karena itu, ia merancang bukunya agar terasa ringan dan relatable, namun tetap berbobot. Pendekatan tersebut diterapkan mulai dari pilihan bahasa, contoh-contoh sehari-hari, hingga tata letak visual. Melalui cara ini, Abigail berharap semakin banyak anak muda memahami pentingnya berpikir kritis dan menerapkannya dalam keseharian.
Abigail juga menekankan perlunya ekosistem yang mendukung budaya membaca dan berpikir sebagai kebiasaan. Dari gagasan itu, ia merencanakan pendirian penerbit Malaka Books.
“Buku itu nggak bisa berjuang sendiri dalam vacuum. Kita harus bikin ekosistem dan komunitasnya, supaya bisa nge-push budaya membaca dan berpikir itu bareng-bareng,” tutup Abigail.
Bagi Abigail, membaca bukan semata aktivitas intelektual, melainkan cara untuk mengenali diri dan dunia. Dengan pendekatan yang hangat dan relevan, ia mengajak generasi muda menjadikan berpikir kritis sebagai bagian dari identitas dan gaya hidup, bukan sekadar tuntutan.