Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cibinong menggelar pelatihan seni tradisional Sunda bagi warga binaan sebagai bagian dari penguatan program pembinaan kepribadian berbasis budaya, Kamis (9/4/2026). Kegiatan ini memfokuskan pembelajaran pada seni lengser dan permainan gamelan Sunda.
Program tersebut ditujukan untuk menanamkan nilai kearifan lokal, meningkatkan rasa percaya diri, serta membangun karakter positif. Dalam pelatihan seni lengser, warga binaan mempelajari gerak sekaligus memahami filosofi yang melekat pada kesenian yang dikenal sebagai simbol kebijaksanaan dan penyambutan dalam budaya Sunda.
Selain tari, peserta juga mendapatkan pembelajaran intensif mengenai gamelan Sunda. Mereka dikenalkan pada sejumlah instrumen, seperti saron, kendang, dan gong, serta diajarkan teknik dasar hingga memainkan komposisi sederhana secara berkelompok. Kegiatan ini juga diarahkan untuk melatih kepekaan rasa, kekompakan, dan kedisiplinan.
Pelatihan dipandu oleh pelatih dari Sanggar Seni Putra Binekas Kabupaten Bogor, Deden. Proses pembelajaran berlangsung dengan pengawasan petugas pembinaan Lapas Cibinong untuk memastikan kegiatan berjalan tertib dan aman sesuai tujuan pembinaan.
Kepala Lapas Cibinong, Wisnu Hani Putranto, menyebut pembinaan berbasis seni budaya sebagai pendekatan yang efektif dalam membentuk kepribadian. “Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan ruang ekspresi positif bagi warga binaan sekaligus melestarikan budaya daerah. Tidak hanya tari, pembelajaran gamelan juga menjadi bagian penting dalam membangun kebersamaan dan kedisiplinan. Harapannya, mereka memiliki bekal keterampilan dan nilai kehidupan saat kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Deden mengapresiasi semangat belajar warga binaan dalam mempelajari tari dan musik tradisional. “Saya senang dapat mengajar di sini. Mereka cepat menangkap gerakan seni lengser sekaligus mampu beradaptasi dengan alat musik gamelan. Ini menunjukkan bahwa seni bisa menjadi media pembinaan yang efektif untuk membangun kepercayaan diri dan karakter,” katanya.
Antusiasme warga binaan terlihat dari partisipasi aktif dalam setiap sesi latihan. Sejumlah peserta juga dinilai menunjukkan bakat menonjol, baik dalam seni lengser maupun saat memainkan gamelan.
Salah satu warga binaan menyampaikan bahwa pelatihan tersebut memberi dampak positif. “Kami merasa sangat terbantu dengan adanya pelatihan ini. Selain belajar menari, kami juga belajar memainkan gamelan. Kegiatan ini membuat kami lebih percaya diri dan memiliki harapan untuk bisa berkarya saat kembali ke masyarakat,” tuturnya.
Ke depan, Lapas Cibinong berencana menampilkan hasil pembinaan melalui pertunjukan internal maupun kolaborasi dengan pihak eksternal, dengan menampilkan perpaduan seni lengser dan musik gamelan sebagai bentuk apresiasi atas proses pembelajaran yang telah dijalani.
Melalui program ini, Lapas Cibinong menyatakan komitmennya untuk menjalankan pembinaan yang juga menjadi ruang transformasi bagi warga binaan, termasuk dalam membangun harapan, kreativitas, dan jati diri.