BERITA TERKINI
Wali Kota Solo Minta RS dan Agen Wisata Sepakati Skema Bisnis untuk Health Tourism

Wali Kota Solo Minta RS dan Agen Wisata Sepakati Skema Bisnis untuk Health Tourism

Wali Kota Surakarta Respati Ardi mendorong manajemen rumah sakit dan pelaku usaha wisata menyepakati model bisnis yang konkret untuk menyukseskan program Solo Medical and Wellness Tourism. Ia menilai kolaborasi tidak akan berjalan maksimal tanpa kesepakatan yang jelas terkait skema pembagian keuntungan atau fee bagi pelaku perjalanan wisata.

Pernyataan itu disampaikan Respati dalam acara Gathering and Kick Off Meeting Solo Medical and Wellness Tourism di Hotel Sunan Solo, Jumat, 24 April 2026. Dalam paparannya, Respati menekankan rumah sakit perlu berfokus pada peningkatan pelayanan medis serta kesejahteraan dokter, sementara promosi dan urusan teknis perjalanan diserahkan kepada agen wisata.

“Biar terjadi lama, bisnis modelnya ditetapkan sekalian, pakai fee atau komisi. Agen travel bertugas menjemput dari bandara hingga mempromosikan layanan rumah sakit. Jika tidak ada titik temu bisnis seperti itu, program ini tidak bisa jalan karena rumah sakit tidak mungkin mengurusi wisatanya sendiri,” ujar Respati.

Pemerintah Kota Surakarta juga menyatakan komitmen menyiapkan stimulus anggaran dan fasilitas pendukung untuk memperkuat ekosistem pariwisata medis. Salah satu langkah yang disiapkan adalah penyediaan armada bus khusus dari Batik Solo Trans (BST) yang akan dimodifikasi menjadi kendaraan penjemputan pasien health tourism dari stasiun maupun bandara.

Respati menyebut fasilitas tersebut akan didukung melalui kerja sama dengan pihak perbankan guna menghadirkan kesan pelayanan premium bagi wisatawan medis yang datang ke Solo.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Solo, Joko Sutrisno, menyambut arahan tersebut dan meminta seluruh anggota PHRI serta Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) segera bergerak melakukan aksi nyata. Menurutnya, Solo memiliki keunggulan dengan keberadaan 22 rumah sakit yang memiliki beragam spesialisasi, mulai dari ortopedi hingga layanan kesehatan tradisional herbal.

Joko menilai keunggulan itu perlu dikemas menjadi paket wisata yang menarik dan kompetitif dibandingkan destinasi luar negeri seperti Penang atau Singapura. “Kita harus punya mindset sukses, kalau orang lain bisa, kita harus bisa. Yang penting action dulu, jangan hanya konsep terus yang tidak rampung-rampung. Kita punya hotel dari bintang satu sampai bintang lima yang siap menampung wisatawan medis dengan berbagai pilihan harga,” kata Joko.

Sinergi para pelaku usaha ini diharapkan dapat mengoptimalkan pendapatan daerah dari sektor pariwisata yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Solo. Respati berharap kolaborasi antara PHRI, ASITA, dan BTN menjadi momentum awal untuk mendorong Solo sebagai “Penangnya Jawa Tengah”, sekaligus meningkatkan target kunjungan wisatawan medis pada 2026.

Sementara itu, Branch Manager Bank BTN Kantor Cabang Solo, Anita Septi Purwarini, menyatakan kesiapan BTN menjadi katalisator bisnis untuk menjembatani kolaborasi antara rumah sakit dan pelaku wisata. Selain memfasilitasi pertemuan strategis, BTN juga menyiapkan infrastruktur pembayaran digital guna mendukung perputaran ekonomi daerah.

“Solo Medical Tourism ini merupakan kolaborasi di mana Bank BTN berperan sebagai katalisator bisnis. Kami memfasilitasi PHRI, ASITA, dan rumah sakit karena ide ini perlu wadah untuk bisa jalan. Harapannya, realisasi ini akan meningkatkan pendapatan asli daerah dan devisa kita, jadi orang-orang tidak perlu berobat ke luar negeri lagi,” katanya.