Volume musik di restoran bukan hanya soal membangun suasana. Sejumlah penelitian menunjukkan, tingkat kebisingan dapat memengaruhi perilaku konsumsi pelanggan—mulai dari seberapa cepat seseorang menghabiskan minuman, seberapa banyak makan, hingga pilihan menu yang dipesan.
Temuan McCarron dan Tierney, misalnya, menunjukkan bahwa musik pop dengan volume lebih tinggi—sekitar 88 dB—membuat orang cenderung minum lebih cepat dan lebih banyak dibandingkan saat musik diputar lebih pelan, sekitar 72 dB. Dalam kondisi bising, seseorang disebut lebih sulit menyadari ritme minumnya sendiri, sehingga minuman bisa habis tanpa terasa.
Hasil serupa juga ditemukan Nicolas Guéguen dan tim dalam penelitian di bar di Prancis. Partisipan yang berada di lingkungan dengan musik lebih keras dilaporkan memesan minuman lebih banyak dibandingkan mereka yang berada dalam suasana lebih tenang. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa suara keras berpotensi meningkatkan konsumsi minuman.
Dampaknya tidak berhenti pada minuman. Lingkungan yang bising juga dikaitkan dengan respons stres ringan. Peneliti bernama Kupferman menjelaskan bahwa peningkatan konsumsi makanan dan minuman dapat menjadi respons terhadap stres akibat suara. Dalam eksperimen pada hewan, suara bising membuat subjek makan lebih banyak bahkan ketika sudah kenyang. Mekanisme serupa disebut bisa terjadi pada manusia dalam skala tertentu.
Dalam situasi seperti itu, tubuh dapat mencari distraksi untuk mengalihkan rasa tidak nyaman, salah satunya melalui makanan. Akibatnya, seseorang bisa terus makan meski tidak benar-benar lapar. Jika terjadi berulang, kebiasaan ini berpotensi berdampak pada kesehatan dalam jangka panjang.
Selain memengaruhi jumlah konsumsi, volume musik juga disebut dapat memengaruhi jenis makanan yang dipilih. Profesor pemasaran University of South Florida, Dipayan Biswas, menemukan bahwa musik dengan volume tinggi membuat orang lebih cenderung memilih makanan yang kurang sehat. Dalam penelitiannya di Stockholm, pemesanan makanan tidak sehat meningkat sekitar 20% ketika musik diputar lebih keras.
Penjelasan yang dikemukakan adalah lingkungan bising membuat otak bekerja lebih cepat dan kurang reflektif saat mengambil keputusan, sehingga pilihan menjadi lebih impulsif. Dalam kondisi ini, menu tinggi kalori seperti burger atau kentang goreng dinilai lebih mudah dipilih dibandingkan opsi yang lebih sehat.
Di sisi lain, sejumlah restoran disebut menyadari bahwa musik dapat digunakan sebagai strategi bisnis. Sejak era 1990-an, beberapa koki mulai memutar musik lebih keras untuk menciptakan suasana tertentu, dan tren ini kemudian diikuti oleh banyak restoran lain, termasuk yang mengusung desain interior yang memantulkan suara seperti konsep industrial modern. Kombinasi tersebut dapat membuat ruangan terasa semakin ramai dan bising.
Survei Consumer Reports juga mencatat kebisingan sebagai keluhan utama pelanggan restoran, bahkan melebihi keluhan soal pelayanan buruk atau kebersihan. Meski demikian, dari sisi bisnis, suara keras disebut berkaitan dengan meningkatnya perputaran meja dan konsumsi pelanggan, sehingga restoran dapat melayani lebih banyak orang dalam waktu lebih singkat.
Rangkaian temuan ini menunjukkan bahwa volume musik di restoran dapat memengaruhi pola makan dan minum, baik dari sisi jumlah maupun pilihan. Kesadaran akan faktor lingkungan seperti ini dapat membantu pelanggan lebih waspada dan tetap mengambil keputusan secara lebih terukur saat makan di luar.

