BERITA TERKINI
V-folktriotisme: Ketika Musik Modern Mengangkat Identitas Budaya Nasional di Era Digital

V-folktriotisme: Ketika Musik Modern Mengangkat Identitas Budaya Nasional di Era Digital

Berbagi lagu bertema peristiwa nasional kembali terlihat menonjol seiring berlangsungnya pemilihan umum Majelis Nasional ke-16 dan Dewan Rakyat di berbagai tingkatan untuk periode 2026–2031. Sejumlah karya terkait momen tersebut beredar luas dan mendapat perhatian publik, menandai bagaimana musik menjadi medium yang cepat dan mudah diakses untuk mengekspresikan kebanggaan kolektif.

Di antara karya yang menonjol, komposer Nguyen Van Chung menulis lagu “Keyakinan dari Surat Suara” yang disebut cepat populer berkat melodinya yang menarik, bernuansa muda, dan mudah diingat. Sementara di Kota Can Tho, komposer Ho Hoang—yang dikenal konsisten menggubah lagu yang memuji tanah airnya—merilis “Hari yang Hanya Datang Sekali Setiap Lima Tahun”, yang ditampilkan di banyak panggung dan memperoleh respons positif.

Fenomena ini mencerminkan menguatnya tren yang disebut V-folktriotisme dalam musik. Istilah tersebut merupakan gabungan dari “folk” dan “patriotisme”, merujuk pada upaya memadukan warisan budaya tradisional dengan bahasa musik modern. Praktiknya mencakup penggabungan dan reinterpretasi kreatif unsur folklor—seperti lagu rakyat dan cerita rakyat—ke dalam karya baru, sekaligus “menata ulang” dan menampilkannya melalui pendekatan kontemporer, baik di panggung maupun platform digital. Melalui cara ini, kebanggaan dan cinta terhadap tanah air disampaikan lewat format yang dekat dengan selera audiens masa kini.

Tren ini juga dinilai memiliki pijakan yang kuat. Program seni berskala besar yang diselenggarakan oleh Televisi Vietnam maupun Surat Kabar Nhan Dan disebut secara proaktif memasukkan unsur etnik ke dalam konser modern, menghasilkan panggung yang kaya identitas budaya. Aransemen baru musik revolusioner serta pertunjukan yang memadukan instrumen tradisional dengan EDM atau pop turut menarik perhatian penonton.

Sejumlah seniman disebut ikut membentuk karakter V-folktriotisme. Hoa Minzy dinilai mengesankan melalui karya bertema sejarah dan budaya; Phuong My Chi—penyanyi bergenre folk—disebut melakukan transformasi dengan menggabungkan tradisi dan nuansa modern; sementara Duc Phuc juga bergabung lewat karya yang membawa pesan positif dan emosi nasionalistik. Di ranah hiburan, program seperti “Brother Says Hi” dan “Brother Overcomes Thousands of Thorns” turut membantu mempopulerkan unsur tradisional dengan format baru yang lebih mudah diakses dan menarik.

Landasan utama tren ini bertumpu pada kekayaan warisan budaya Vietnam yang luas. Berbagai bentuk kesenian seperti nyanyian rakyat Quan Ho, opera tradisional Ca Tru, opera Cai Luong, nyanyian rakyat Hat Xam, hingga musik rakyat Don Ca Tai Tu disebut sebagai “tambang emas” materi kreatif. Ketika diolah dengan pemikiran produksi modern, materi tersebut tidak hanya menghadirkan identitas unik, tetapi juga membantu musik Vietnam tampil menonjol di tengah arus globalisasi.

Di saat musik kian mudah “diseragamkan”, mempertahankan karakter khas dipandang sebagai keunggulan kompetitif. Melalui V-folktriotisme, musik Vietnam—termasuk V-pop—didorong untuk tampil modern sekaligus tetap berakar pada identitas budaya yang membedakannya.