Tren pariwisata global disebut tengah bergeser. Wisata tidak lagi dipahami semata sebagai perpindahan tempat, melainkan juga proses pemulihan fisik, mental, hingga spiritual. Dalam perubahan lanskap ini, wellness tourism berkembang menjadi salah satu sektor yang dinilai paling dinamis.
Sejumlah negara seperti Thailand dan India disebut telah lebih dulu mengamankan posisi melalui layanan seperti medical spa dan Ayurveda. Di Indonesia, respons mulai terlihat melalui pendekatan pariwisata yang terintegrasi dengan layanan kesehatan modern, salah satunya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur. Bali, terutama Ubud, juga kian dikenal sebagai pusat wellness yang bertumpu pada budaya dan spiritualitas.
Di tengah arus tersebut, muncul pertanyaan tentang arah Lampung: apakah ikut mengambil peran dalam perkembangan wellness tourism atau hanya menjadi penonton.
Dalam konteks ini, Lampung dinilai tidak kekurangan potensi. Wilayah ini memiliki modal alam yang kerap dianggap memenuhi prasyarat penting wellness tourism, seperti Taman Nasional Way Kambas, ekowisata bahari di Teluk Kiluan, lanskap santai di Pulau Pahawang, hingga kawasan Pesisir Barat. Kedekatan Lampung dengan Jakarta juga dipandang sebagai keunggulan akses karena memungkinkan perjalanan cepat dari pusat tekanan urban terbesar di Indonesia.
Namun, potensi tersebut disebut belum berkembang menjadi posisi yang jelas. Lampung dinilai belum memiliki narasi kuat untuk menjawab pertanyaan mendasar: alasan wisatawan perlu datang ke Lampung untuk pulih. Tanpa jawaban itu, potensi disebut sulit dikonversi menjadi nilai yang nyata.
Risiko lain yang disorot adalah kecenderungan daerah menunggu hingga sebuah tren terlihat matang sebelum bergerak. Dalam wellness tourism, pendekatan ini dinilai berisiko karena sektor tersebut tumbuh bukan hanya akibat permintaan, tetapi juga keberanian destinasi mengambil posisi sejak awal, membangun diferensiasi, dan menjaga konsistensi pengalaman. Daerah yang masuk tanpa arah yang jelas berisiko hadir, tetapi tidak benar-benar dipilih.
Artikel tersebut juga menekankan bahwa mengikuti tren tidak cukup jika hanya menggunakan pendekatan lama, seperti memperbanyak destinasi, membangun fasilitas, dan mengejar jumlah kunjungan. Wellness tourism disebut lebih bertumpu pada kualitas pengalaman, sehingga menuntut kurasi, cerita, dan nilai—bukan sekadar volume. Tanpa itu, istilah wellness dikhawatirkan hanya menjadi label baru yang ditempelkan pada praktik lama.
Di sisi lain, Lampung dinilai tidak harus meniru model seperti Bali. Justru ada peluang untuk mengambil posisi berbeda, misalnya melalui konsep short escape dari tekanan kota, nature-based healing yang lebih alami, serta pengalaman yang sederhana namun bermakna. Pendekatan ini disebut selaras dengan tren wisata yang semakin mencari keaslian, tetapi menuntut kejelasan arah dan konsistensi.
Jika Lampung memilih tetap bertahan pada pola pariwisata konvensional, pilihan itu disebut bukan tanpa dasar, namun memiliki konsekuensi. Ketika preferensi wisatawan bergerak ke pengalaman yang lebih personal dan bernilai, daerah yang tidak beradaptasi berpotensi kehilangan relevansi secara bertahap—bukan karena tidak menarik, melainkan karena tidak lagi sesuai dengan yang dicari.
Momentum pengembangan wellness tourism di Indonesia saat ini dinilai masih berada pada fase awal, ketika peta belum sepenuhnya terbentuk dan ruang untuk menentukan posisi masih terbuka. Bagi Lampung, situasi ini disebut sebagai kesempatan untuk menentukan arah sebelum persaingan semakin padat. Tanpa langkah yang jelas, Lampung dikhawatirkan berada di pinggiran arus besar yang sedang bergerak, sementara peran dan arah telah lebih dulu ditentukan oleh destinasi lain.