Industri wellness kian menegaskan posisinya sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat urban. Di tengah tren tersebut, kehadiran DeWave Signature Surabaya menggambarkan bagaimana layanan relaksasi tidak lagi dipandang sekadar kebutuhan sekunder, melainkan mulai masuk ke dalam pola konsumsi warga perkotaan.
Co-Founder DeWave Signature Surabaya, Cipto Suwarno Kurniawan, menjelaskan bahwa konsep “Signature” tidak semata merujuk pada ukuran tempat, melainkan pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung. Ia menyebut, DeWave Signature Surabaya memiliki luas 1.200 meter persegi dengan rancangan ambience dan interior yang ditujukan untuk menghadirkan pengalaman relaksasi yang lebih lengkap.
“Kenapa kok tempat ini dinamakan DeWave Signature? Karena bukan hanya luasannya, tapi dari ambience, interior, luasannya sendiri 1.200 meter persegi, lalu semua treatment lengkapnya DeWave itu ada di sini,” ujar Cipto dalam wawancara, Sabtu, 11 April 2026.
Menurut Cipto, fasilitas yang disediakan dirancang untuk menjawab kebutuhan efisiensi sekaligus kenyamanan. Salah satu inovasi yang ditonjolkan adalah kursi multifungsi yang memungkinkan beberapa perawatan dilakukan dalam satu waktu, seperti foot treatment, head treatment, pijat, hingga nail art.
“Salah satunya adalah ada kursi untuk terapi tadi, itu satu kursi bisa untuk terapi foot treatment, head treatment, pijat, sambil nail art. Jadi kalau misalkan waktu yang jadi kendala, di sini cukup satu jam selesai semua,” katanya.
Ia menilai perubahan ini tidak lepas dari bergesernya perilaku konsumen di sektor kesehatan. Jika sebelumnya wellness identik dengan layanan medis, kini fokusnya semakin mengarah pada pendekatan preventif dan relaksasi.
“Kalau dulu kita bicara wellness 70% adalah soal rumah sakit. Tapi kalau wellness zaman sekarang itu sudah berbeda, 70%-nya adalah yang lain dari rumah sakit. Rumah sakit sisa 30% doang,” jelasnya.
Cipto menambahkan, pertumbuhan industri wellness berjalan seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kualitas hidup. Aktivitas seperti pijat, berbagai treatment, hingga olahraga semakin dianggap sebagai bagian dari rutinitas, bukan hanya kebutuhan sesekali.
“Apapun yang melingkupi industri kesehatan yang memperbaiki kualitas hidup manusia itu masuk di industri wellness, dan itu memang sedang berkembang,” tambahnya.
Dari sisi pasar, Surabaya dinilai masih memiliki ruang ekspansi. Cipto menilai karakter kota yang terbagi dalam beberapa kawasan utama membuka peluang pertumbuhan bisnis wellness serupa di wilayah lain.
“Kalau market Surabaya, saya rasa masih bisa peluang untuk berkembang ya industri ini. Dan nanti kita lihat, dan saya yakin tempat ini berkembang, maka kita akan buka mungkin di Timur dan Barat,” ujarnya.
Menariknya, strategi yang diusung tidak sepenuhnya menyasar segmen premium. DeWave Signature Surabaya mengusung konsep “affordable luxury”, yakni menghadirkan fasilitas yang dinilai berkelas dengan harga yang tetap kompetitif.
“Konsep kami itu adalah affordable luxury. Kita menyediakan tempat yang seperti ini, secakap ini, se-luxury ini, tapi affordable. Yang artinya dibandingkan tempat lain itu harga kita sangat-sangat mirip banget,” kata Cipto.
Selain harga, aspek kenyamanan seperti ketersediaan ruang dan privasi disebut menjadi pertimbangan penting konsumen. Untuk mengantisipasi penolakan karena keterbatasan kapasitas, DeWave Signature Surabaya menyediakan total 40 kamar.
“Jawaban pertama mereka, mereka paling nggak senang kalau mau pijat ketolak karena tempatnya penuh. Makanya kita sediakan 40 kamar untuk menanggulangi itu,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti sisi privasi, termasuk penggunaan pintu pada ruang perawatan agar pengalaman pengunjung lebih nyaman. “Di sini kita sudah pakai pintu. Sekat kamarnya pun sudah pakai pintu juga. Jadi lebih privasi, suaranya orang sebelah nggak masuk ke dalam.”
DeWave Signature Surabaya memiliki 40 kamar yang terdiri dari ruang individual, couple, hingga komunal, serta fasilitas tambahan seperti Jacuzzi. Model bisnis ini menunjukkan bagaimana sektor wellness semakin bertransformasi menjadi bagian dari ekonomi gaya hidup yang lebih luas di lingkungan perkotaan.