Konsep wellness kini berkembang dan tidak lagi terbatas pada olahraga serta pola makan. Tren ini juga mencakup kesehatan mental, keseimbangan emosional, hingga kualitas hubungan sosial. Sejumlah pendekatan pun semakin dikenal di masyarakat, mulai dari mindfulness, terapi suara, sampai detoks digital.
Hal tersebut disampaikan pengamat sosial Arlan Parulian dalam program Sore Ceria Pro 2 RRI Sibolga, Rabu, 15 April 2026. Ia menyebut salah satu konsep yang banyak diminati adalah mindfulness dan meditasi, termasuk yoga, yang dinilai membantu seseorang lebih sadar terhadap kondisi diri dan lingkungan sekitar.
“Yoga memang seperti meditasi, ini banyak gunanya karena di sini kita bisa meningkatkan fokus sama menurunkan kecemasan juga,” kata Arlan.
Di sisi lain, wellness fisik juga terus berkembang melalui berbagai pendekatan, seperti pola makan vegetarian dan terapi kebugaran. Selain itu, spa kesehatan dengan konsep eco-wellness, penggunaan bahan alami, serta program retreat di alam terbuka menjadi pilihan bagi sebagian orang untuk melepas stres.
Menurut Arlan, tren tersebut menunjukkan meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap keberlanjutan sekaligus kesehatan pribadi. Ia juga menyoroti popularitas digital wellness, yaitu upaya mengatur penggunaan gawai agar tidak berlebihan.
Di tengah derasnya arus informasi, sejumlah pekerja muda mulai menerapkan jadwal bebas layar untuk menjaga kualitas tidur dan kesehatan mata. Pendekatan ini dinilai dapat membantu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keseimbangan hidup.
Arlan menekankan bahwa wellness bukan sekadar mengikuti tren, melainkan perjalanan mengenal diri sendiri. Karena itu, ia menilai konsistensi lebih penting daripada intensitas sesaat. “Wellness itu personal, setiap orang kebutuhannya beda, ada yang lewat olahraga dan ada pula yang cukup dengan meditasi lima belas menit tapi rutinitas ini harus dilakukan terus-menerus walau itu kecil kan yang penting konsisten,” tutupnya.