BERITA TERKINI
Thailand Dukung Festival Musik dengan Anggaran Multi-Tahun hingga 2031, Target Nilai Ekonomi 12 Miliar Baht

Thailand Dukung Festival Musik dengan Anggaran Multi-Tahun hingga 2031, Target Nilai Ekonomi 12 Miliar Baht

Otoritas Thailand menyatakan dukungan terhadap penyelenggaraan festival musik melalui perjanjian multi-tahun dan menyetujui anggaran sebesar 2 miliar baht (sekitar US$61 juta) hingga 2031. Para pejabat memperkirakan rangkaian acara tersebut dapat menghasilkan nilai ekonomi sekitar 12 miliar baht selama periode yang sama.

Dukungan ini muncul di tengah perubahan dinamika industri festival global. Model lama yang banyak bergantung pada penggemar yang terbang lintas benua kini menghadapi tekanan, seiring meningkatnya gangguan penerbangan dan naiknya tarif tiket pesawat. Kondisi tersebut membuat biaya menghadiri acara-acara utama di lokasi seperti Belgia atau Las Vegas menjadi lebih mahal bagi sebagian pengunjung.

Dalam konteks itu, posisi Thailand yang relatif dekat dengan banyak negara di kawasan Asia Pasifik dinilai kian menarik untuk penyelenggaraan acara besar regional. Jarak penerbangan yang lebih singkat membuka akses ke audiens yang besar, sekaligus mendukung upaya penyelenggara menjangkau pasar terdekat.

Thailand juga memiliki citra sebagai destinasi dengan kehidupan malam yang semarak, termasuk dikenal lewat pesta bulan purnama. Ekspansi festival disebut sejalan dengan ketergantungan negara tersebut pada sektor pariwisata, dengan harapan acara-acara besar dapat mendorong permintaan penerbangan, hotel, dan layanan lokal. Selain itu, festival diharapkan membantu Thailand menjangkau wisatawan Asia, ketika kedatangan wisatawan jarak jauh masih berada di bawah tekanan.

Di sisi lain, penyelenggara festival turut menghadapi ketidakpastian akibat situasi global. Juru bicara Tomorrowland, Debby Wilmsen, mengatakan tiket festival tersebut telah terjual habis. Ia menilai tantangan geopolitik atau global bukan hal baru bagi penyelenggara, namun menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah mengelola ketidakpastian.

Dinamika perjalanan global juga mulai memengaruhi profil pengunjung. Festival disebut merasakan dampak gangguan perjalanan, termasuk ketika sebagian peserta tidak dapat hadir di edisi musim dingin di Prancis akibat pembatalan penerbangan.

Thee Tosayanond, kepala pemasaran Future Vibes Co. Ltd. selaku penyelenggara Electric Daisy Carnival (EDC) Thailand, menyebut festival dapat mencerminkan gambaran makro dari situasi di sekitarnya. Ia mencontohkan penurunan jumlah wisatawan dari China tahun lalu yang berimbas pada berkurangnya pengunjung festival dari negara tersebut, sementara peningkatan wisatawan dari pasar seperti Australia dan India turut mendorong kenaikan kehadiran.

Untuk EDC Phuket, penyelenggara menargetkan sekitar 50.000 pengunjung per hari, lebih dari 40% lebih tinggi dibanding edisi sebelumnya. Mayoritas pengunjung diperkirakan berasal dari pasar terdekat. Pada edisi sebelumnya, pengunjung dari Thailand menyumbang sekitar 20% dari total kehadiran, sementara sisanya sebagian besar datang dari kawasan Asia Pasifik.

EDC Phuket disebut akan menjadi edisi ketiga sekaligus yang terbesar, dengan pertunjukan yang menggabungkan musik country dan folk Thailand. Tiket gelombang pertama untuk acara tiga hari itu telah terjual habis. Harga tiket masuk umum dipatok 7.090 baht dan tiket VIP 13.390 baht. Penyelenggara juga menyatakan belum melihat adanya pembatalan yang terkait dengan konflik di Timur Tengah.

Meski belum jelas berapa lama ketegangan global akan berlangsung, Future Vibes menyatakan siap menanggung biaya yang lebih tinggi tanpa membebankannya kepada pelanggan, sebagai bagian dari strategi membangun kehadiran regional. Thee mengatakan pihaknya tidak akan menaikkan harga dan memilih fokus pada rencana jangka panjang.

“Kami ingin membangun pusat festival untuk Asia — dan kami dapat mengambil keuntungan yang lebih kecil, atau bahkan kerugian, di tahun-tahun awal. Ini adalah investasi untuk masa depan,” ujarnya.