BERITA TERKINI
Tembang Kenangan Era 1980-an hingga Awal 2000-an Kembali Diminati Gen Z

Tembang Kenangan Era 1980-an hingga Awal 2000-an Kembali Diminati Gen Z

Lagu-lagu tembang kenangan dari era 1980-an hingga awal 2000-an kembali banyak didengarkan generasi muda, khususnya Generasi Z. Tren ini terlihat dari meningkatnya penggunaan lagu-lagu lawas di berbagai platform digital, mulai dari aplikasi pemutar musik hingga media sosial, yang menunjukkan musik lintas generasi tetap memiliki daya tarik di tengah perkembangan industri musik modern.

Rainy Al Faiqa, pelajar di Kota Sibolga yang mewakili Gen Z, mengatakan lagu-lagu lama memiliki kekuatan tersendiri, terutama dari segi lirik dan melodi. Menurutnya, banyak lagu lawas menyampaikan emosi secara lebih jujur dan puitis, sehingga mudah dipahami dan dirasakan pendengarnya. Karena itu, tembang kenangan dinilai tetap relevan meski telah berusia puluhan tahun.

Rainy menilai, di tengah maraknya musik digital yang diproduksi cepat dan mengikuti tren, sebagian anak muda justru mencari musik yang dianggap lebih autentik. Lagu-lagu dari era sebelumnya dinilai memiliki karakter yang kuat, baik dari aransemen maupun kedalaman makna lirik. Pencarian keaslian ini disebut menjadi salah satu faktor meningkatnya minat Gen Z terhadap tembang kenangan.

Selain itu, media sosial—khususnya platform berbagi video pendek—turut berperan menghidupkan kembali popularitas lagu-lagu lama. Banyak pengguna memanfaatkan lagu lawas sebagai latar konten, yang kemudian membuatnya kembali viral dan dikenal oleh generasi yang sebelumnya tidak pernah mendengarnya. Proses penemuan ulang ini membuat tembang kenangan kembali masuk ke daftar putar harian anak muda.

Rainy juga menyebut faktor nostalgia terhadap masa yang dianggap lebih sederhana ikut memengaruhi ketertarikan Gen Z. Meski tidak mengalami langsung era tersebut, suasana yang tergambar dalam lagu-lagu 1990-an dan 2000-an sering memberi kesan tenang dan santai. Di tengah tekanan akademik, sosial, serta derasnya arus informasi digital, musik lawas menjadi sarana pelarian yang menenangkan bagi sebagian anak muda.

Fenomena ini turut didukung musisi modern yang mengaransemen ulang lagu-lagu lama agar terdengar lebih segar tanpa menghilangkan ciri khas aslinya. Karya musisi seperti Kahitna dan Chrisye kerap dibawakan kembali dalam versi baru, sehingga menjangkau pendengar muda sekaligus mempertahankan kualitas musikal yang sudah dikenal luas.

Menurut Rainy, mendengarkan tembang kenangan kini tidak lagi identik dengan selera generasi yang lebih tua. Banyak anak muda secara sadar memilih lagu-lagu lama karena menganggapnya sebagai karya musik berkualitas. Mereka bukan hanya menikmati, tetapi juga menjadikannya bentuk apresiasi terhadap sejarah dan perkembangan industri musik Indonesia.

Dengan akses terhadap katalog musik yang semakin mudah melalui layanan streaming, lagu-lagu lawas dinilai memiliki peluang besar untuk terus hidup dan dikenal lintas generasi. Fenomena ini menunjukkan karya musik yang kuat dapat melampaui batas waktu dan tetap relevan di tengah perubahan selera serta teknologi yang bergerak cepat.