Kehadiran seorang mahasiswa baru berusia 60-an di Perguruan Tinggi Teknologi Quy Nhon, Provinsi Gia Lai, menarik perhatian pada tahun ajaran 2025–2026. Di tengah kelas yang mayoritas diisi mahasiswa Generasi Z, Tran Gia Tin kembali duduk di bangku kuliah, memulai dari pertemuan pertama dengan gitar dan buku catatan baru.
Keputusan Tin untuk kembali menempuh pendidikan bukan sekadar mengisi masa pensiun. Ia menyebut langkah ini sebagai kelanjutan dari perjalanan panjangnya di dunia pendidikan, sekaligus upaya mengejar minat yang selama ini ingin ia tekuni lebih dalam.
Selama 33 tahun berkarier sebagai pendidik, Tin mengingat salah satu pengalaman paling berkesan ketika mengabdi selama 14 tahun di Sekolah Khusus Quy Nhon Hope yang merawat anak-anak penyandang disabilitas. Saat ia menjabat kepala sekolah, lembaga tersebut baru berdiri dan masih menghadapi banyak keterbatasan.
Para siswa saat itu merupakan anak-anak dengan gangguan motorik dan bahasa; sebagian mengalami gangguan pendengaran, sementara yang lain menderita autisme berat. Di sisi lain, tenaga pengajar dinilai belum memiliki cukup keahlian dalam merawat anak-anak berkebutuhan khusus. Kondisi ini membuat proses belajar mengajar menjadi berat, termasuk dalam menjaga kedisiplinan. Tin mengenang sejumlah kejadian ketika siswa panik saat pelajaran berlangsung, bahkan ada yang sempat melarikan diri sehingga guru harus menyusuri pantai untuk menemukan mereka dan membawa kembali dengan selamat.
Dalam perannya, Tin tidak hanya mengelola sekolah, tetapi juga turun langsung mengajar di kelas. Bersama para guru, ia membimbing siswa dari keterampilan paling dasar. Pada masa itulah ia merasakan peran musik dalam membantu proses pendampingan. Menurutnya, melodi yang lembut dapat menenangkan suasana hati, membantu siswa menstabilkan diri, mengurangi stres, dan perlahan membuka ruang komunikasi.
Setelah meninggalkan Sekolah Khusus Quy Nhon Hope, Tin melanjutkan pekerjaan di Dinas Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Binh Dinh—yang kini telah digabung ke Provinsi Gia Lai—dengan jabatan wakil kepala kantor. Pada 2025, setelah pensiun, ia mengambil keputusan yang mengejutkan banyak pihak: kembali berkuliah. Meski telah memiliki empat gelar sarjana dan satu gelar magister, ia menilai gelar-gelar sebelumnya lebih terkait kebutuhan pekerjaan, sedangkan studi kali ini ia jalani untuk mengejar hasratnya.
Di kampus, kehadiran Tin cepat menjadi perhatian tersendiri. Perbedaan usia disebut seolah memudar karena sikapnya yang tenang, mudah didekati, dan serius dalam belajar. Ia juga dipandang memberi inspirasi bagi mahasiswa lain mengenai pentingnya pembelajaran sepanjang hayat.
Pada awalnya, keputusan tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran di keluarga, terutama dari sang istri yang berharap ia beristirahat setelah bertahun-tahun bekerja. Namun, semangat Tin memunculkan dampak positif: putranya yang sudah lulus kuliah dan bekerja memutuskan kembali melanjutkan studi. Kisah ayah dan anak yang sama-sama menjadi pelajar pun menjadi gambaran tentang semangat belajar di dalam keluarga.
Di balik langkahnya kembali kuliah, Tin menyimpan rencana jangka panjang. Ia bermimpi membuka kelas musik untuk anak-anak penyandang disabilitas setelah lulus nanti. Berbekal pengalaman di pendidikan khusus, ia menilai banyak anak tidak memiliki lingkungan untuk mengembangkan bakat setelah menyelesaikan sekolah dasar. Ia berharap dapat menghadirkan ruang di mana musik bukan hanya pelajaran, tetapi juga alat terapi untuk membantu anak-anak lebih percaya diri dalam kehidupan.
Kepala Perguruan Tinggi Teknologi Quy Nhon, Pham Van Tuong, menilai perjalanan Tin sebagai bukti bahwa memulai hal baru tidak mengenal kata terlambat. Ia mengatakan Tin tidak hanya bersemangat dalam studi, tetapi juga aktif mengikuti kompetisi keterampilan kejuruan serta kegiatan dan pertunjukan di sekolah.