Kreativitas siswa kembali tampil dalam ajang Gianyar Student Creativities (GSC) 2026. Gugus Sayan, Kecamatan Ubud, menghadirkan teater musik edukatif bertajuk “LULUWIH” yang memadukan unsur bunyi, gerak, rupa, dan cerita dengan pesan kepedulian lingkungan.
Pementasan yang digelar di Balai Budaya Gianyar pada Kamis (2/4/2026) malam mengangkat gagasan bahwa sesuatu yang dianggap “lulu” atau tidak berguna dapat diolah menjadi “luwih”, yakni lebih bernilai. Konsep itu diterjemahkan melalui pertunjukan yang menampilkan barang-barang sederhana yang kerap dipandang sebagai sampah.
Dalam pertunjukan tersebut, para siswa memanfaatkan benda seperti sapu, ember, dan galon sebagai media artistik. Benda-benda itu diolah menjadi sumber bunyi ritmis sekaligus menghadirkan visual dan gerak yang menarik di atas panggung.
Konseptor sekaligus penata karya, Felix Kaples, mengatakan pertunjukan dirancang agar dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak serta relevan dengan isu global. “Kami ingin menghadirkan pengalaman teater yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengedukasi tentang pentingnya pengelolaan sampah,” ujarnya.
Melalui “LULUWIH”, penonton diajak merefleksikan hubungan manusia dengan lingkungan. Sampah yang kerap dianggap sebagai akhir dari sebuah siklus ditampilkan sebagai awal dari kreativitas baru yang bernilai.
Proses kreatif pertunjukan ini melibatkan kolaborasi siswa, guru, dan komite sekolah. Para pembina, yakni Pande Kadek Leo Andika Putra, I Kadek Wira Surya Adnyana, Sayu Putu Astriningsih, dan Ni Made Sanggreni, turut membimbing jalannya latihan hingga pementasan.
Selain mengasah kemampuan seni, rangkaian latihan juga menanamkan nilai kebersamaan, disiplin, dan tanggung jawab. Latihan yang konsisten menghasilkan pertunjukan yang tertata rapi, penuh energi, dan menonjolkan pesan moral.
Pj Perbekel Sayan, Jro Mangku Gde Kesumawijaya, mengapresiasi inovasi tersebut dan menilai “LULUWIH” sebagai karya yang inspiratif serta berbeda dari pertunjukan pada umumnya. “Pemanfaatan barang-barang sederhana menjadi kekuatan utama yang menunjukkan bahwa kreativitas tidak selalu membutuhkan fasilitas mewah,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan serupa terus dikembangkan sebagai wadah bagi generasi muda untuk berkarya sekaligus meningkatkan kesadaran menjaga lingkungan. Melalui “LULUWIH”, Gugus Sayan menegaskan bahwa dari hal-hal sederhana yang kerap terabaikan dapat lahir karya yang lebih bernilai dan bermakna.

