BERITA TERKINI
Taman Musik Tenggarong Disiapkan Jadi Panggung Bergilir Budaya, Ogoh-ogoh Kerta Buana Jadi Inspirasi

Taman Musik Tenggarong Disiapkan Jadi Panggung Bergilir Budaya, Ogoh-ogoh Kerta Buana Jadi Inspirasi

Tradisi ogoh-ogoh dalam rangkaian perayaan Nyepi di Desa Kerta Buana, Kecamatan Tenggarong Seberang, dinilai membuka peluang baru bagi pengembangan panggung budaya di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Bupati Kukar Aulia Rahman Basri melihat potensi kesenian tersebut untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas melalui pemanfaatan Taman Musik Tenggarong.

Gagasan itu mengemuka pada puncak Perayaan Nyepi Tahun Baru Caka 1948 yang digelar di Pura Paso Pati, Jumat malam (3/4/2026). Acara tersebut dihadiri Wakil Gubernur Seno Aji dan Bupati Aulia Rahman Basri.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Desa Kerta Buana, I Made Susana, menjelaskan ogoh-ogoh bukan sekadar patung besar untuk diarak, melainkan simbol penting dalam tradisi Nyepi. Ia menyebut proses pembuatannya memerlukan waktu panjang dan biaya yang tidak sedikit, sekitar Rp25 juta hingga Rp50 juta per ogoh-ogoh.

“Kalau ada support dari pemerintah, tentu sangat meringankan kami dalam menjaga warisan leluhur ini,” ujar Made Susana.

Dalam tradisi Nyepi, ogoh-ogoh merepresentasikan Bhuta Kala atau sifat-sifat negatif pada diri manusia yang perlu disucikan. Melalui rangkaian pembuatan hingga arak-arakan, umat diajak melakukan refleksi diri, mengendalikan hawa nafsu, serta menyingkirkan energi negatif sebelum memasuki Catur Brata Penyepian.

Rencana menghadirkan ruang tampil melalui Taman Musik Tenggarong disambut baik umat Hindu setempat. Mereka menilai dukungan pemerintah dapat membantu pelestarian sekaligus pengembangan budaya yang selama ini dijaga.

“Dukungan pemerintah membuat kami sangat berbahagia karena bisa meringankan beban dalam melestarikan budaya ini,” kata Made Susana.

Sementara itu, Bupati Aulia Rahman Basri menilai kesenian yang ditampilkan dalam perayaan Nyepi di Kerta Buana layak diperkenalkan lebih luas. Ia menyebut Taman Musik Tenggarong berpeluang menjadi ruang publik untuk menampilkan budaya dari berbagai suku di Kukar secara bergiliran.

“Kita punya taman musik di Tenggarong. Mungkin nanti setiap bulan akan kita gilir penampilan dari berbagai suku yang ada di Kukar,” ujarnya.

Aulia mengatakan perayaan yang ia hadiri bukan hanya kegiatan keagamaan, tetapi juga membangkitkan kenangan masa kuliahnya. Ia bercerita pernah mengikuti kegiatan Dharma Santi bersama teman-teman Hindu dan kemudian memahami maknanya sebagai ajang saling memaafkan setelah refleksi diri.

“Dulu sering ikut Dharma Santi waktu kuliah. Ya, awal-awalnya mungkin karena ikut-ikutan teman, tapi lama-lama paham juga maknanya. Ini seperti halal bihalal, saling memaafkan setelah kita merefleksi diri,” tuturnya.

Ia juga menyinggung nilai Tri Hita Karana yang menurutnya kuat dalam kehidupan umat Hindu di Kerta Buana, mencakup parahyangan (hubungan harmonis manusia dengan Tuhan), pawongan (hubungan harmonis antarsesama), dan palemahan (hubungan harmonis manusia dengan alam).

“Bagaimana konsep kedamaian Tri Hita selalu menghiasi hari-hari kita. Bagaimana hubungan kita secara parahyangan, hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhannya, hubungan pawongan, yaitu hubungan harmonis antara sesama manusia, dan hubungan palemahan, yang berarti hubungan harmonis antara manusia dengan alam,” kata Aulia.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut tidak hanya berupa konsep, melainkan terlihat dalam kehidupan masyarakat setempat. Ia menilai ruang ekspresi budaya seperti yang terlihat di Kerta Buana penting untuk didukung, tidak hanya bagi umat Hindu, tetapi juga untuk memperkenalkan keragaman budaya di Kukar.

“Intinya, sangat luar biasa kesenian dari suku, adat dan istiadat yang ada di Kukar ini,” ucapnya.

Melalui pemanfaatan Taman Musik Tenggarong, Aulia berharap penampilan ogoh-ogoh, tarian, serta nilai-nilai yang menyertainya tidak berhenti pada satu perayaan, melainkan dapat hadir di ruang publik dan dinikmati lebih banyak orang, sehingga budaya tetap terjaga sekaligus terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.